jump to navigation

I’TIBAR AL-MA’AL Oktober 29, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in GORESAN.
trackback

NgajiBiografi Singkat Imam As-Syatibi

Nama lengkap As-Syatibi adalah Ibrahim bin Musa bin Muhammad, Muhammad Makhluf menempatkan syatibi pada urutan ke 16 dalam tingkatan ahli fikih malikiyah cabang Andalusia. Kunyahnya adalah Abu Ishaq sedangkan nisbatnya as-Syatibi atau al-garnati. Garnati dinisbatkan kapada kerajaan yang berkuasa ketika imam as-syatibi hidup (Granada) adapun syatibi (satifa) adalah sebuah kota di bagian timur Andalusia beliau dilahirkan pada tahun 720 H imam syatibi menghabiskan seluruh waktu hidupnya di Granada, ia tidak pernah pergi keluar dari Andalusia karena para pakar sejarahpun tiadk pernah menjelaskan bahwa imam syatibi pergi keluar dari Andalusia, untuk melakukan ibadah haji ataupun untuk melaksanakan expedisi ilmiah kebebrapa Negara bagian timur.[1]

Pengertian I’tibar Al-Ma’al

I’tibar al-ma’al adalah teori yang dikemukakan para ahli usul fikih ketika akan menerapkan suatu hukum hasil ijtihad ke obyek hukum itu sendiri (manusia).Untuk pertama kali teori ini diperkenalkan oleh Imam asy-Syatibi, ahli usul fikih, ketika ia membagi ijtihad kepada dua bentuk, yakni ijtihad istimbati dan ijtihad tatbiqi.

Ijtihad istimbati adalah upaya menyimpulkan hukum Islam dari sumber-sumbernya (upaya penggalian hukum Islam dari teks-teks suci), sedangkan ijtihad tatbiqi adalah upaya menerapkan hukum Islam itu secara tepat terhadap suatu kasus (upaya menerapkan hukum Islam yang digali dari teks-teks suci tersebut ke objek hukum). Dalam ijtihad istimbati, yang menjadi pusat perhatian adalah sumber-sumber hukum Islam, yang dilakukan baik dengan pendekatan kebahasaan maupun pendekatan maqasid syari’ah. Dalam ijtihad tatbiqi yang menjadi perhatian utama adalah untuk mengantarkan seorang penerap hukum kepada penerapan hukum secara tepat dalam suatu kasus, yang menjadi objek kajiannya adalah hal-hal yang meliputi perbuatan manusia dengan segala bentuk objek perbuatan itu, juga manusia itu sendiri sebagai pelaku hukum dengan segala kondisi dan perbuatannya. Ijtihad tatbiqi dapat berlaku pada setiap hukum, baik yang dinilai qat’i , rinci maupun yang zanni

I’tibar al-ma’al adalah teori yang dikemukakan para ahli usul fikih ketika akan menerapkan suatu hukum hasil ijtihad ke obyek hukum itu sendiri (manusia).Untuk pertama kali teori ini diperkenalkan oleh Imam asy-Syatibi, ahli usul fikih, ketika ia membagi ijtihad kepada dua bentuk, yakni ijtihad istimbati dan ijtihad tatbiqi.

Menurut al-Syatibi, I’tibar al-ma’al adalah suatu ijtihad yang berupaya menerapkan suatu hukum sesuai dengan situasi dan kondisi yang mengitari objek hukum. Situasi dan kondisi ini perlu diperhatikan, karena ketika menerapkan suatu hukum yang digali dari nas (Alquran dan sunah), ada kemungkinan hukum itu cocok untuk diterapkan ke objeknya atau sebaliknya membawa dampak yang negatif terhadap objek hukum secara keseluruhan. Dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang mengitari objek hukum, seorang mujtahid dengan tepat dapat menentukan hukum mana yang akan diterapkan kepada objek hukum itu. Teori ini muncul ketika berlangsung ijtihad tatbiqi.

Teori ini dapat dikembangkan secara luas dalam berbagai persoalan agama, baik dalam bidang ibadah maupun bidang muamalah. Yang menjadi acuan dalam teori ini adalah tujuan persyariatan suatu hukum, yaitu tercapainya kemaslahatan yang dikehendaki syara’. Telah menjadi kesepakatan di kalangan ahli fikih bahwa setiap hukum yang ditentutan Allah SWT atau Rasulullah SAW pasti bertujuan untuk mencapai suatu kemaslahatan atau menolak suatu kemudharatan. Dalam kaitan ini seorang mujtahid dalam menerapkan hukum pada objeknya harus berupaya untuk mencapai maksud atau tujuan syarak ini.

Menurut Imam Syatibi, seorang mujtahid tidak boleh menerapkan hukum yang telah digalinya dari Alquran atau sunah sebagaimana adanya. Ia berkewajiban memberikan pertimbangan berdasarkan situasi dan kondisi yang mengitari objek hukum. Apabila hukum yang dihasilkan dari ijtihadnya itu tidak cocok diterapkan pada objek hukum karena penerapan hukum itu membawa kemudharatan, maka mujtahid itu harus mencarikan hukum lain yang lebih sesuai, sehingga kemudharatan bisa dihilangkan dan kemaslahatan dapat tercapai.[2]

Jadi, I’tibar al-ma’al dengan pengertian lain adalah penelitian terhadap sebuah pekerjaan ditinjau dari akibat yang dihasilkan oleh pekerjaan tersebut sebagai pertimbangan hokum. Sehingga menghasilkan hukum kedua dari pekerjaan tersebut.[3]

Kaidah Usuliyah Yang Berkaitan Dengan Penerapan Teori i’tibar al-ma’al

Dalam penerapan teori i’tibar al-ma’al, ada beberapa kaidah yang dikemukakan oleh Imam asy-Syatibi, antara lain kaidah az-zariah, istihsan, dan lainnya. Az-Zari’ah itu sendiri ada yang dilarang (sadd az-zariah) dan ada yang dibolehkan (fath az-zariah).

Menurut para ahli usul fikih, yang dimaksud sadd az-zariah adalah menutup semua jalan yang membawa kepada kemudharatan. Misalnya, menerima hadiah dari seseorang pada dasarnya boleh dan halal karena perbuatan ini membawa pada suatu kemaslahatan dan dapat mempererat persaudaraan. Akan tetapi untuk seorang hakim, karena tugas dan jabatannya, tidak dibenarkan menerima hadiah dari orang-orang yang terkait dengan perkara yang sedang dihadapinya.

Adapun fath az-zariah adalah membuka semua jalan yang menyampaikan seseorang pada kemaslahatan. Misalnya mengerjakan shalat Jumat itu adalah kewajiban, maka berupaya untuk mengerjakan shalat Jumat itu juga wajib; shalat itu wajib, maka berusaha untuk mencari air wudlu juga wajib.

Istihsan menurut Abu Ishaq as-Syatibi dalam madzhab al-Maliki berkata “Istihsan adalah pengambilan sesuatu kemaslahatan yang bersifat  juz’I dalam menanggapi dalil yang bersifat global”.[4]

Tendensi Keabsahan Teori i’tibar al-ma’al

Dalam teori ini Imam as-Syatibi mempunyai tendensi atau dasar tersendiri mengenai keabsahan teori I’tibar al-ma’al, yaitu ;

  1. Sesungguhnya syari’at (peraturan Allah) diturunkan oleh allah hanyalah untuk menciptakan kemaslahatan manusia baik kemaslahatan tersebut bersifat duniawi ataupun bersifat ukhrawi.
  2. Sesungguhnya akibat yang dihasilkan oleh amal (pekerjaan) adakalanya termaktub secara jelas dalam nash dan adakalanya tidak termaktub secara jelas dalam nash, sehingga memungkinkan akibat amal tersebut bertentangan dengan maksud atau tujuan amal tersebut pada awalnya.
  3. Pengkajian atau risearch secara sempurna terhadap dalil-dalil syara’ yang dalam hal ini berupa al-Qur’an dan hadist.[5]

Contoh I’tibar Al-Ma’al

Dalam contoh ini pemakalah mencoba untuk mengangkat permasalahan tentang sebuah kegiatan di desa pemakalah, yang kegiatan tersebut dengan sebutan “kirap karnaval”[6] yang di adakan oleh sebuah lembaga pendidikan, yang saat ini selalu menjadi kontroversi keterlaksanaannya kegiatan tersebut.

Pada awal diadakannya kegiatan “kirap karnaval” tersebut oleh seorang ‘ulama’ terkemuka di desa pemakalah (Alm. KH. Yahya Syabrowi), memang bertujuan baik atau mendatangkan kemaslahatan. Yaitu ; terciptanya kesatuan antara kaum muslimin nahdiyyi khususnya yang pada saat itu acara tersebut banyak diikuti oleh anggota barisan anshor, yang notabene menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. Selain itu juga acara tersebut dimaksudkan sebagai syi’ar pengembangan lembaga pendidikan tersebut.

Namun seiring berkembangnya zaman dan sepeninggalnya ulama’-ulama’ terkemuka di desa  tersebut, kegiatan kirap karnaval mulai di masuki nilai-nilai kemaksiatan dan tidak lagi menjadi wadah pemersatu ummat, sehingga akhir-akhir ini pelaksanaan kegiatan tersebut  menjadi perdebatan pablik.

Secara singkat kirap karnaval ditinjau dari akibat yang dihasilkannya adalah lebih banyak mengakibatkan kemafsadatan (pada masa-masa sekarang) yakni diantaranya ; pemborosan dalam pendanaan acara tersebut, bentuk kegiatan yang mulai tidak menghargai nilai-nilai keislaman, waktu sholat yang diabaikan oleh peserta kegiatan. Sedangkan ditinjau dari segi kemaslahatan acara tersebut sudah tidak lagi seperti dahulu pertama kali diadakan.

Ditinjau dari konsep I’tibar al-Ma’al [7]maka kegiatan tersebut dapat disimpulkan dan masuk dalam katagori sadz az-Zari’ah, yakni sebuah kegiatan yang awalnya mengandung akibat positif, menjadi kegiatan yang sebaliknya yaitu mengakibatkan kemudlaratan yang diantaranya disebut di atas.

DAFTAR RUJUKAN

  1. Rachmat Syafe’I, MA. Prof. DR.  Ilmu Ushul Fiqih, Pustaka setia, Bandung.
  2. Abi Ishaq Ibrahim bin Musa as-Syatibi, Al-Muwafaqat fi ushulil ahkam,dar ar- Rasyad al haditsah, tanpa tahun.
  3. Humaidi Hambali, Imam Syatibi dan proyek Ushul Fiqh Humani.situs internet.
  4. Muhammad Adib, Tela’ah Konsep Asy-Syatibi Tentang Saad Az-Zari’ah Dan Aplikasinya Di Indonesia,Skripsi IAIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta, 1997-1998.
  1. http://h4nb4l.blogspot.com/2008/04/imam-syatibi-dan-proyek-ushul-fiqh.html.

www.yusdani.com/materi/Ijtihad%20Istimbati%20dan%20Tatbiqi%20(%20Materi%20Kuliah).rtf


[1] http://h4nb4l.blogspot.com/2008/04/imam-syatibi-dan-proyek-ushul-fiqh.html.

 

[2] www.yusdani.com/materi/Ijtihad%20Istimbati%20dan%20Tatbiqi%20(%20Materi%20Kuliah).rtf.

[3] Materi kuliah hari kamis tanggal 05 juni 2008.

[4] Prof. DR. Rachmat Syafe’I, MA. Ilmu Ushul Fiqih, Pustaka setia, Bandung. Hlm; 111.

[5] Abi Ishaq Ibrahim bin Musa as-Syatibi, Al-Muwafaqat fi ushulil ahkam,dar ar Rasyad al haditsah, tanpa tahun. Hlm ; 111 – 112.

[6] Kirap Karnaval : adalah kegiatan yang melibatkan publik dengan mengundang beberapa hiburan diantaranya drumband, sakera, barisan-barisan untuk dipertontonkan, dan acara tersebut diadakan dalam rangka pelepasan atau wisuda siswa siswi di sebuah lembaga.

[7] Perlu diperhatikan bahwa I’tibar al-Ma’al hanyalah sebuah teori untuk menjadi pertimbangan sebuah hukum bukan untuk memutuskan sebuah hukum terhadap sebuah aktifitas atau amal.

About these ads

Komentar»

1. fatimah zahroh - Januari 6, 2011

sesuai dengan nama besarnya imam syatibi membutuhkan orang besar untuk bisa memahaminya… imam syatibi luar biasa ,, mas yang menulis ini juga sugah bagus,, lanjutkan mas,,, saya sangat mengapresiasi.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: