jump to navigation

KONSENSUS ULAMA’ FIQIH (IJMA’) September 26, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

LLLLL1. PENGERTIAN IJMA’

Ijma’ menurut bahasa mempunyai arti sepakat atau kesepakatan. Sedangkan menurut mayoritas ulama’ adalah :

هو إتفاق جميع المجتهدين من المسلمين فى عصر من العصر بعد وفاة رسول

“Kesepakatan para imam mujtahid di kalangan umat islam tentang suatu syara’ (hukum islam) pada suatu masa setelah rasulullah SAW wafat”.

2. KRITERIA IJMA’

Ijma’ dipandang sebagai suatu sumber hukum islam sesudah al-qur’an dan hadist jika memenuhi keempat kriteria berikut :

  1. Ada sejumlah mujtahid ketika ditetapkan hukum atas suatu kejadian .
  2. Kesepakatan para mujtahid terhadap syara’ tentang suatu masalah atau kejadian itu lahir tanpa memandang perbedaan negeri atau kebangsaan / kelompok.
  3. kesepakatan para mujtahid itu diiringi dengan pendapat mereka masing-masing secara jelas mengenai suatu kejadian, baik secara qouli atau ucapan (misalnya memberikan fatwa mengenai suatu kejadian) maupun dalam bentuk fi’li atau perbuatan (seperti menjatuhkan suatu keputusan mengenai hukum suatu kejadian). Setelah pendapat-pendapat mereka itu terkumpul harus lahir kesepakatan secara jelas atau muncul pendapat secara kelompok.
  4. Kesepakatan semua mujtahid itu dapat diwujudkan dalam suatu hukum jika sebagian besar diantara mereka mengadakan kesepakatan, maka ijma’ itu tidak bisa didasarkan atas kesepakatan jumlah mayoritas.

3. KLASIFIKASI IJMA’

Dilihat dari segi cara melakukan ijtihad, ijma’ dapat dibedakan dalam dua macam;

  1. Ijma’ Sarih adalah kesepakatan para mujtahid pada suatu masa terhadap hukum suatu kejadian atau peristiwa dengan menyajikan pendapat masing-masing secara jelas, dilakukan dengan cara memberi fatwa atau memberi keputusan dengan kata lain, setiap mujtahid menyanpaikan ucapan atau perbuatan yang mengungkap pendapatnya masing-masing secara jelas.
  2. Ijma’ Syukuti adalah apabila sebagian mujtahid pada suatu masa mengemukakan pendapatnya secara jelas terhadap hukum suatu kejadian dengan cara memberi fatwa atau keputusan. Sedangkan sebagian yang lain tidak menanggapi pendapat tersebut dengan ucapan dalam hal persesuaian dan perbedaannya.

4. DALIL KEHUJJAHAN IJMA’

  1. al-qur’an

Artinya : “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”.

  1. Hadist

لاتجمع امتى على الضلالة        “Ummatku  tidak akan bermufakat atas kesesatan”

  1. Aqli

Ijama’ dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya kesalahan semua mujtahid ketika bersepakat atas suatu masalah ataupun tanpa terjadi perbantahan di dalamnya.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: