jump to navigation

STUDI KRITIK SANAD September 27, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback
  1. A. Pengartian Dan Sejarah Dirasah al-Asaanid
  • Pengertian Dirasah al-Asaanid

Saiful Hitam Putih1.Etimologi

Kata Diraasah Berasal dari bahasa arab yaitu (دراسة  ) bentuk jamak dari (دارس  ) yang berarti “Mempelajari”.[1] Sedangkan kata al-Asaanid juga seperti itu yaitu (اساند) Bentuk jamak dari kata (سند ),[2] Yang berarti suatu yang disandarkan, disebut seperti itu karena hadist disandarkan kepadanya.[3]

2.Terminologi

Secara umum sanad adalah: silsilah perawi yang sampai kepada matan hadist. Sedangkan kata dirasah dalam perkembangannya biasa disebu dengan “Kritik”.[4]Setelah kita definisikan hal-hal diatas bisa ditarik kesimpulan, bahwa dirasah al-asaanid atau kritik sanad adalah penelitian, penilaian, dan penelusuran sanad hadist tentang individu perawi dan proses penerimaan hadist dari guru mereka masing-masing dengan berusaha menemukan kekeliruan dan kesalahan dalam rangkaian sanad untuk menemukan kebenaran, yaitu kualitas hadist (shahih, hasan, dan dha’if).[5]

  • Histori timbulnya Dirasah al-Asaanid (Kritik Sanad)
  1. Priode Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin

Pada masa rasulullah hidup, dan pada masa khulafaur rasyidin belum ditemukan kegiatan meneliti hadist. Hal itu dapat dipahani karena para perawi hadist pada masa tersebut disepakati para muhadditsin sebagai masa berkumpulnya periwayat hadist yang adil ” الصحابة كلهم عدل” .

  1. Priode Tabi’in Dan Setelahnya

Perhatian ulama’ terhadap sanad hadist dipicu oleh ditemukannya hadist palsu yang diciptakan oleh irang-orang Zindik dan orang yang mempunyai kepentingan khusus baik karena kepentingan politis, bisnis, maupun karena fanatisme faham, Aliran dan madzhab.[6]

  1. Faktor Urgensi Penelitian Sanad

Ada Empat factor yang menyebabkan penelitian sanad hadist dianggap urgen  oleh para ulama’ahli hadist, yaitu:

ü  Hadist sebagai salah satu sumber ajaran agama islam.

ü  Penulisan Hadist

ü  Pemalsuan Hadist

ü  Pembukuan Hadist[7]

  1. Kriteria Kesahihan Sanad Hadist

Dalam Hal ini pemakalah hanya bisa menyajikan pendapat dari muhadditsin mutaakhirin, yang diantaranya pendapatyang dikemukakan oleh Ibn Sholah (Wafat 643 H = 1245 M ) dalam muqaddimahnya :

أما الحديث الصحيح فهو الحديث المسند الذي يتصل إسناده بنقل العل الضابط عن العدل الضابط إلى منتهاه ولايكون شاذا ولامعللا [8]

Dari definisi hadist sahih diatas tampak jelas bahwa hadist shahih harus memenuhi lima syarat:

1)      Bersambung sanadnya : Perawi yang ada harus tsiqah. Dengan menggunakan kata penghubung yang berkualitas tinggiyang sudah disepakatioleh para ulama’, yang mengindikasikan adanya pertemuan antara periwayat tersebut. Kata penghubung itu diantaranya ( حدثني – أخبرني – أخبرنا – قال لنا – ذكرلنا – سمعت – حدثنا ). Adanya indikasi perjumpaan antara mereka seperti; proses guru dan murid, Tahun lahir dan wafat mereka, Belajar / Mengajar atau mengabdi di satu tempat yang sama.[9]

2)      Diriwayatkan oleh periwayat yang ‘adil

3)      Diriwayatkan oleh perawi yang dhabit

4)      Terhindar dari Syadz : Menurut Muhammad Idris Al-Syafi’I (w.204 H/820 M) Hadist syadz adalah hadist yang diriwayatkan oleh periwayat yang tsiqah, tetapa riwayatnya bertentangan dengan riwayat lain yang diriwayatkan oleh orang tsiqah juga. Pendapat inilah yang banyak dianut oleh muhadditsin.[10]

5)      Terhindar dari‘Illat : Untuk meneliti illat pada sebuah sanad dibutuhkan beberapa keahlian seperti di gariskan oleh Ibn Al-Shalah yang dianut oleh muhadditsin, yaitu harus cerdas, memiliki hafalan hadist yang banyak, paham hadist yang dihafalkan, mendalam pengetahuannya tentang berbagai tingkat kedhabitan periwayat dan ahli dibidang sanad dan matan hadist.[11]

  1. Contoh Hadist

أخبرنا محمد بن خالد قال حدثنا بشر بن شعيب عن ابيه عن الزهري قال أخبرنى سعيد بن المسيب وابو سلمة بن عبد الرحمن أن ابى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم”حين أنزل عليه وأنذر عشيرتك الأقربين فقال يامعشر قريش اشتروا أنفسكم من الله لا أغني عنكم من الله شيأ يابني عبدمناف لا أغني عنكم من الله شيأ ياعباس بن عبد المطلب لا أغني عنك من الله شيأ ياصفية عمة رسول الله لا أغني عنكِ من الله شيأ يافاطمة سلينى ماشئتِ لا أغني عنكِ من الله شيأ

Rangkaian periwayat hadist tersebut adalah sebagai berikut :

1)      Imam Al-Nasa’I menerima hadist dari Muhammad ibnkhalid dengan menggunakan kata أخبرنا , kata tersebut adanya proses penerimaan hadist secara al-sama’. Dan hal penting yang menjadi pegangan disini adalah bahwa semua penulis kitab rijal al-hadist mengatakan Imam Al-Nasa’I menerima hadist dari muhammmad Ibn Khalid dan Iamam Al-Nasa’I adalah satu-satunya murid muhammmad Ibn Khalid . Karena itu dapat disimpulkan bahwa periwayat pertama benar-benar menerima hadist dari periwayat kedua (Muttashil).

2)      muhammmad Ibn Khalid menerima hadist dari Bisyr ibn Syu’aib dengan menggunakan kata حدثنا , kata tersebut menunjukkan adanya proses penerimaan hadist secara al-sama’. Dilihat dari tahun wafat dan tempat tinggal mereka memberikan indikasi adanya pertemuan diantara mereka. Para ahli hadist sepakat mengatakan bahwa muhammmad Ibn Khalid adalah murid Bisyr.

3)      Bisyr ibn Syu’aib menerima hadist dari bapaknya (Syu’aib) dengan menggunakan kata عن . Walaupun dia menggunakan kata عن, mereka dapat dipastikan dapat bertemu dengan beberapa alasan; Pertama mereka adalah bapak dan anak, sehingga tempat dan tahun yang terkait dengan mereka tidak ada celah untuk diragukan; Kedua’ mereka sama-sama ulama’ hadist.

4)      Syu’aib menerima hadist dari Al-Zuhri dengan menggunakan kata عن . mereka sezaman dan mengabdi di tempat yang sama, yaitu di syam, Makkah, dan Madinah. Semua penulis kitab rijal al-hadist sepakat bahwa yu’aib adalah murid dari Al-Zuhri dalam bidang Hadist.

5)      Al-Zuhri menerima hadist dari Al-Musayyab dengan menggunakan kata  أخبرني . Kata tersebut menunjukkan proses penerimaan hadist secara al-sama’ dan dilihat dari segi tahun wafat dan tempat tinggal mereka memungkinkan adanya pertemuan antara mereka. NAmun yang paling penting adalah mereka sama-sama ulama’ besar, baik dalam bidang hadis ataupun fiqih. Oleh karena itu, ahli hadist sepakat bahw Al-zuhri adalah murid sa’id ibn Musayyab demikian pula terhadap abu salamah.

6)      Abu Salamah Abdurrahman dan sa’id ibn Musayyab menerima hadist dari Abu Hurairah dengan menggunakan kata أن . Ahli hadist sepakat bahwa kedua periwayat tersebut adalah murid Abu Hurairah.

7)      Abu Hurairah menerima hadist dari Rasulullah. Dengan menggunakan kata قال . Abu Hurairah adalah sahabat nabi yang paling banyak menerima dan meriwayatkan hadist dari rasulullah [12].          

DAFTAR PUSTAKA

Bustamin. M.Isa H.A.Salam; Metodologi Kritik hadis.Rajawali Pers,Jakarta.2004

A.Warson Munawir; Kamus Arab-Indonesia Al-Munawir, Jogjakarta.1986.

M.Mizan Asrori.Iltizam Syamsuddin MH;Mustholah Hadist, Al-ihsan.Surabaya,1989.


[1] A.Warson Munawir; Kamus Arab-Indonesia Al-Munawir, Jogjakarta.1986.Hlm,429.

[2] Ibid,Hlm.712.

[3] M.Mizan Asroro.Iltizam Syamsuddin MH;Mustholah Hadist, Al-ihsan.Surabaya,1989. Hlm,19.

[4] Pemakalah.

[5] Bustamin. M.Isa H.A.Salam; Metodologi Kritik hadis. Rajawali Pers,Jakarta.2004Hal, 6–7

[6] Ibid.Hlm,7

[7] Ibid.Hlm,12-22

[8] Ibid.Hlm,24

[9] Ibid.Hlm,53

[10] Ibid.Hlm,57

[11] Ibid.Hlm,58

[12] Ibid,Hlm.54-56

Komentar»

1. elzackrouw - Mei 19, 2010

terimakasih mas ……
tulisan anda sangat berguna bagi saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: