jump to navigation

Apa Dan Siapa Itu NU (Nahdlatul Ulama’)….? Oktober 10, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

NU LOGOApa Dan Siapa Itu NU (Nahdlatul Ulama’)….?

Nahdlatul Ulama’ (Ar.: Nahdlah Al ‘Ulama’ = Kebangkitan ‘Ulama). Salah satu organisasi social keagamaan di Indonesia. Organisasi ini berkedudukan di ibu kota Negara, tempat pengurus besarnya berada, NU berakidah islam menurut paham Ahlusunnah Waljama’ah dan menganut imam madzhab 4 (Empat) : HAnafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali. Asasnya adalah Pancasila. Tujuan didrikannya adalah untuk memperjuangkan berlakunya Ajaran Islam yang berhaluan  Ahlusunnah Waljama’ah dan menganut Madzhab Empat di tengah-tengah kehidupan di dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila.[1]

Cikal Bakal Berdirinya NU (Nahdlatul Ulama’)

Berdirinya jam’iyah Nahdlatul Ulama’ didahului oleh beberapa peristiwa yang merupakan prolog dari pendirian organisasi tersebut. Kejadian Itu adalah Brdirinya organisasi-Organisasi Yang menjadi Cikal Bakal NU Diantaranya :

  1. Berdirinya Grup Diskusi di Surabaya tahun 1914 dengan nama “Taswirul Afkar” Dipimpin oleh KH.Wahab Hasbullah dan KH.Mas MAnsyur dan juga ada “Islam Studie Club” Untuk Diskusi masalah agama.
  2. Berdirinya “Nahdlatul Wathon”  (Kebangkitan Tanah Air) Tahun 1916, yang banyak mengelola madrasah dengan nama madrasah “Nahdlatul Wathon” yang mendapat badan hukum dengan pengurus KH.Khohar sebagai direktur KH. Wahab HAsbullah Sebagai Pimpinan Guru , KH.Mas mansyur sebagai kepala sekolah yang dibantu KH.Ridlwan Abdullah.
  3. Dalam Perkembangannya “Nahdlatul Wathon” berubah menjadi ”Subbanul Wathon” Tahun 1925 yang bermarkas di jalan Onderling blang Surabaya. Yang merupakan cikal bakal gerakan pemuda Anshor.

Kelahiran NU (Nahdlatul Ulama’)

Sesungguhnya yang melatar belakangi lahirnya NU adalah adanya keberangkatan Mu’tamar Alam islami Asy Syarqiyah ke arab Saudi tanpa mengikut sertakan ulama’ tradisional,[2] maka para Ulama’ Tradisional / Kyai Pondok – pondok pesantren mengadakan pertemuan sendiri di Surabaya bertempat di kampung kertopaten Surabaya  pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M, yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah;

  1. KH.Wahab Hasbullah
  2. Hadratus Syekh KH.Muhammad Hasyim Asy’ari (Tebu Ireng)
  3. KH. Bisyri Syamsuri (Denanyar Jombang)
  4. KH.R.Asnawi (Kudus)
  5. KH. Ma’shum (Lasem)
  6. KH. Ridlwan (semarang)
  7. KH. Nawawi (Malang)
  8. KH. Ridlwan (Surabaya)
  9. KH. Abdul Halim (Leuwimunding cirebon)

10.  KH. Doro Muntoha (Menantu KH.Cholil Bangkalan madura)

11.  KH. Alwi Abdul Aziz (Surabaya)

12.  KH. Dahlan Abdul Qohar (kerosono)

13.  KH. Abdullah Faqih (Gersik)

Dalam pertemuan itu diambil keputusan – keputusan sebagai berikut :

Pertama : Meresmikan Berdirinya “komite hijaz” untuk mengirimkan delegasi untuk berjumpa muka dengan raja Ibnu Suud di mekkah.

Kedua : Membentuk suatu jam’iyah untuk wadah persatuan para ulama’ dalam tugas memimpin islam menuju terciptanya Izzul Islam Wal Muslimin (Kejayaan Ilam dan Ummatnya).

Ketiga : Membatasi masa kerja komite hijaz hingga pulangnya delegasi dari menjalankan tugasnya ke mekkah .

Keanggotaan Komite hijaz pada awal mulanya terdiri atas KH.Wahab Hasbullah dan Syekh Ahmad Ghona’eim Al-amir Al-misri Seorang ulama’ terkenal berasal dari mesir yang menetap di jawa timur. Komite ini ditetapkan berangkat bulan Februari 1926 tetapi tidak terlaksana karena kesulitan masalah keberangkatan yang berdekatan dengan musim haji sedangkan kapal haji sudah berangkat dan baru berangkat lagi tahun 1927.

Dari sinilah Jam’iyah NU (Nahdlatul Ulama’) dilahirkan di Surabaya pada Musyawarah Alim Ulama’ tanggal 31 Januari 1926 pada saat itu juga.

Pemberian Nama NU (Nahdlatul Ulama’)

Pelopor atau pencipta nama perkumpulan ini dengan nama Nahdlatul Ulama’ adalah KH. MAs Alwi Abdul Aziz yang Saat itu kepala sekolah Nahdlatul Wathon. Setelah diajukan pada rapat disetujui oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan hadirin.

Sebenarnya ada dua orang pengusul nama NU Yaitu :

  1. KH. Mas Alwi Abdul Aziz dengan nama Nahdlatul Ulama’ (Kebangkotan Ulama’).
  2. KH. Abdul Hamid, sedayu Gersik dengan nama Nuhudul Ulama’ (Akan Kebangkitan Ulama’)

Sedangkan yang diterima Forum adalah usulan KH. Mas Alwi Abdul Aziz. Mengenai Lambang NU diciptakan oleh KH Ridlwan HAsbullah dari Surabaya yang diajukan dalam Muktamar NU Ke II 12 Robi’ul Tsani 1347 H (28 September 1928)dan disetujui Muktamar sebagai lambing jam’iyah Nahdlatul Ulama’.[3]

Perkembangan NU (Nahdlatul Ulama’)

H.A.Kholid Nawardi dalam bukunya Serkel Teori dan Perkembangan Partai NU, membagi FAse perkembangan NU sebagai berikut :[4]

Fase I : NU Sebagai Jam’iyah dibagi empat sirkel :

a)    1926 – 1942

b)   1942 – 1945 (Masa Jepang)

c)    1945 – 1950

d)   1950 – 1952

Fase I : NU Sebagai Partai Politik dibagi empat sirkel :

a)    1952 – 1955

b)   1955 – 1959 (Masa Jepang)

c)    1959 – 1963

d)   1950 – ……

Menurut Kajian LP Ansor Jatim, perkembangan NU sejak dilahirkan sampai sekarang dapat dibagi menjadi beberapa periode dengan karakteristik tersendiri dari masing-masing priode :[5]

1)      Priode 1926 – 1942 (priode jam’iyah murni)

2)      Priode 1942 – 1952 (priode jam’iyah semi politik)

3)      Priode 1952 – 1973 (priode partai politik)

4)      Priode 1973 – 1984 (priode jam’iyah semi politik)

5)      Priode 1926 – …… (priode jam’iyah murni)

DAFTAR PUSTAKA

1. Bibit Suprapto,SH. Nahdlatul Ulama’ Eksistensi peran dan Prospeknya, LP. Ma’arif Cab Malang, 1987.

2. Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedi Islam Jilid 5, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.Jakarta, 2002.


[1] Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedi Islam Jilid 3, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.Jakarta, 2002. Hlm;345

[2] Ulama’ tradisional yang tidak ikut serta dalam pendelegasian tersebut adalah KH.Wahab Hasbullah dikarenakan ayahandanya sakit keras (KH.Hasbullah).

[3] Bibit Suprapto,SH. Nahdlatul Ulama’ Eksistensi peran dan Prospeknya, LP. Ma’arif Cab Malang, 1987. Hlm. 36-42.

[4] Buku tersebut ditulis Pada tahun 1965 kemungkinan besar sekarang sudah bertambah sirkel – sirkel tersebut.

[5] Ibid,Hlm.43

[6] Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedi Islam Jilid 5, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.Jakarta, 2002. Hlm;65-67

[7] Ibid.1. Hlm.258

[8] Ibid.2.Hlm.38

[9] Ibid,1.Hlm.278-279

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: