jump to navigation

PENDIDIK (GURU) PROFESIONAL Oktober 31, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

SANY0245Pengertian Pendidik

Secara umum pendidik adalah mereka yang memiliki tanggung jawab mendidik yakni orang dewasa yang karena hak dan kewajibannya melaksanakan proses pendidikan. Menurut Noeng Muhajjir adalah seseorang yang personifikasi pendidikan yaitu mempribadinya keseluruhan yang diajarkan, bukan hanya isisnya tapi juga nilainya. Pada intinya pendidik adalah seseorang yang professional dengan tiga syarat memiliki pengetahuan lebih, mengimplisitkan nilai dalam pengetahuannya dan bersedia mentransfer pengetauan beserta nilainya kepada peserta didik.

Pendidik, selain bertugas melakukan transfer of knowledge, juga seorang motivator dan fasilitator bagi proses belajar peserta didiknya. Menurut Hasan Langgulung, dengan paradigma ini, seorang pendidik harus dapat memotivasi dan memfasilitasi peserta didiknya agar dapat mengaktualisasikan sufat-sifat Tuhan yang baik, sebagai potensi yang perlu dikembangkan. Dalam melakukan tugas profesinya, pendidik bertanggung jawab sebagai pengelola belajar ( Manager of Learning), pengarah belajar (Direktor of Learnning), dan perencana masa depan masyarakat.

Persyaratan Pendidik (Guru)

untuk dapat melakukan peranana dan melaksanakan tugas serta tangung jwabnya, guru memerlukan syarat-syarat etertentu. Syarat-syarat inilah yang akan membedakan antara guru dari manusia-manuisa lain. Adapun syarat-syarat menjadi guru itu dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok :

1. Persyaratan administrative. Meliputi : soal kewarganegaraan (warga Negara Indonesia), Umur (sekurang-kurangnya 18 tauhn, berkelakuan baik, mengajukan permohohnan).

2. Persyaratan Teknis, dalam persyaratan teknis ini ada yang bersifat formal, yakni harus berijazah guru, menguasai cara dan teknik mengajar, terampil mendesains program pengajaran serta memiliki motivasi dan cita-cita memajukan pendidikan dan pengajaran.

3. Persyaratan Psikis. Sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuen, berani bertanggung jawab, berani berkorban dan meiliki jiwa pengabdian, dan lain-lain.

4. Persyaratan Fisik. Ini antara lain meliputi berbadan sehat, tidak memiliki cacat tubuh yang mungkin mengganggu pekerjaannya, tidak memiliki gejala-gejala penyakit yang menular.

Sesuai dengan tugas keprofesiannya, maka sifat dan persyaratan tersebut secara garis besar dapat dklasifikasikan dalam spectrum yang lebih luas, yakni guru harus:

  1. Memiliki kemampuan professional;
  2. Memiliki kapasitas intelektual;
  3. Memiliki sifat edukasi social.

Ketiga syarat kemampuan itu diharapkan telah dimiliki oleh setiap guru, sehingga mampu memenuhi fungsinya sebagai pendidik bangsa, guru di sekolah dan pemimpin masyarakat. Untuk itu diperlukan kedewasaan dan kematangan diri guru itu sendiri yang meliputi aspek-aspek yaitu :

  1. Aspek kematangan Jasmani, dapat dilihat dari perkembangan biologis dan usia. Pada umumnya sikatakan sudah dewasa jasmai, kalau seseorang itu sudah akil baligh atau sudah berkeluarga. Namun pada kenyataannya dalam kehidupan masyarakat masih jarang dipakai sebagai criteria kedewasaan.
  2. Aspek Kematangan Rohani. Kematangan atau kedewasaan dalam arti rohani mungkin sangat bervariasi atau berbeda-beda antara masyarakat atau bangsa yang satu dengan yang lain. Kematangan atau kedewasaan rohani disini termask antara lain : sudah matang dalam bertindak dan berpikir, sehingga sikap dan penampilannya menjadi semakin mantap. Menghargai dan mematuhi norma serta nilai-nilai moral yang berlaku.
  3. Kematangan atau Kedewasaan Kehidupan Sosial.aspek kedewasaan social berhubungan dengan kehidupan social, atau kehidupan bersama antar manusia. Untuk dapat bergaul dengan sesame manusia dituntut adanya kemampuan berinterkasi dan memenuhi beberapa persyaratan. Sebagai contoh harus dapat saling menghargai, salilng tenggang rasa, saling tolong menolong. Seseorang itu boleh dikatakan masih seperti anak-anak, karena masih ambisius, mementingkan diri sendiri (Individualistis). Dan kedewasaan seseorang juga ditandai dengan perkembangan rasa tanggung  jawab.

Guru Sebagai Pendidik dan Pembimbing.

Seseorang dikatakan guru tidak cukup “tahu” sesuatu materi yang akan dioajarkan, tetapi pertanakali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki “kepribadian guru” dengan segala ciri tingkat kedewasaanya. Dengan kata lain untuk menjadi guru atau pendidik, seseorang harus memiliki kepribadian.

Selanjutnya sebagai kelanjutan atau penyempurnaan fungsi guru sebagai pendidik, maka harus berfungsi pula sebagai pembimbing. Pengertian pendidik dalam hal inin lebiuh luas dari fungsi “membimbing”. “Bimbingan” adalah termasuk sarana dan serangkaian usaha pendidikan.

Seorang guru menjadi pendidik berarti sekaligus menjdasi pembimbing. Sebagai contoh guru yang berfungsi sabagai pendidik dan pengajar sering kali melakukan pekerjaan bimbingan, misalnya bimbingan belajar, bimbingan tentang sesuatu keterampilan dan sabagainya. Jadi yang jelas dalam proses pendidikan kegiatan mendidik, mengajar dan bimbingan sebagai yang tidak dapat dipisahkan.

Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan kegiatan menuntun anak didik dalam perkembangannya dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai denga tujuan pendidikan.

Perkembangan pendidik (Guru)

Dilhat dari segi perkembangannya, pada zaman kunoguru sering kali diberi predikat pendidik yang lebih kuat para siswa atau anak didik diarahka menjadi manusia-manusia yang taat padamaha pencipta, sopan, tunduk kepada ketentusn serta adapt istiadat yang berlaku, walaupun kadang-kadang hal itu kurang rasional. Kemudian pada zaman colonial, fungsi guru sabagai pengajar lebih mnonjol. Hal ini disesuaikan dengan maksud kaum colonial untuk menghasilkan orang-orang yang dapat bekarja untuk kaum colonial. Soal pribadi dan etika dan siap mental kurang dapat perhatian bagaimana pada masa berikutnya secara tidak disadari dalam berbagai pralktek dan pelaksanakan dalam kegiatan belajar khususnya dan proses pendidikan pada umumnya. Fgungsin guru sebagai pengajkar (penyampaian ilmu pengetahuan) masih cendrung untk menonjol. Hal ini dapat dillihat dalam kenyataan sehari-hari bahwa guru pada umumnya akan memberikan criteria keberhasilan anak didiknya. Mellaui nilai-nilai pelajaran yang diajarkan setiap harinya, seta kurang memperhatikan sikap dan tingkah laku anak sehari-harinya. Dalam kaitannya ini berarti guur disifati sebagai seorang yang hanya lebih dan tibnggi soal ilmu pengetahuan saja. Akibatnya eksistensi guru hanya akan dihormati siswanya waktu mengajar disekolah sedang diluar sebagai manusia yang sama dengan manusia pada umumnya.

Tugas Pendidik (Guru)

Mengenai tugas gurum, ahli-ahli pendidikan maupun ahli pendidikan barat, telah sepakat bahwa tugas guru adalah mendidik. Mendidik adalah tugas yang amat luas. Mendidik itu sebagian dilakukan dalam bentuk mengajar, sebagian dalam bentukmemberikan dorongan, memuji,menghukum, memberi contoh, memnbiasakan dan lain-lain. Tugas itu dapat digambarkan sebagai berikut

P

P   = Lingkaran Pendidikan

P1  = Mendidik Dengan cara mengajar

P2  = Mendidik Dengan Cara Memberi Dorongan

P3  = Mendididk Dengan Cara Memberi Contoh

P4  = Mendidik dengan cara Memuji

P5  = Mendidik Dengan Cara Membiasakan

Pn = Mendidik Dengan Cara Lain-lain

Dalam literatur  barat diuraikan tugas-tugas guru selain mengajar, tugas yang selain mengajar ialah berbagai macam tugas yang sesungguhnya bersangkutan dengan mengajar, yaitu tugas membuat persiapan mengajar, tugas mengevaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang selalu bersangkutan dengan pencapaian pengajaran. Ag. Soejono (1982:62) memerinci tugas-tugas pendidik (guru) sebagi berikut:

  1. Wajib menemukan pembawaan yang ada pada anak-anak didik dengan berbagai cara seperti obserfasi, wawancara,melalui pergaulan, angket,dan sebagainya.
  2. Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan perkembangan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang.
  3. Memperlihatkan kepada anak didik tugas orang dewasa dengan cara memperkenalkan berbagai macam keahlian, keterampilan, agar anak didik memilih dengan tepat.
  4. Memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkal anak didik menemui kesulitan dalam mengembangkan potensinya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Sardiman. A.M, “ Interaksi Dan Mutifasi Belajar Mengajar “. Jakarta, Rajawali Pers: 2004.
  2. Toto Suharto, “ Filsafat Ilmu Pendidikan ”, Jogjakarta. Ar ruz: 2006.
  3. Ahmad Tafsir, “ Ilmu pendidikan Dalam Persepektif Islam “, Bandung. Remaja Rosda Karya: 2000.

Komentar»

1. marlena - November 27, 2009

kasih gambar yang bagus dongggggg


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: