jump to navigation

PENDIDIKAN FERSI IBNU MASKAWIH November 7, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

DSC00001A. Riwayat Hidup Ibnu Maskawih

Abu Ali Ibnu Maskawih dilahirkan di Ray tahun 330 H (940 M). Karya tulis ibnu maskawih seluruhnya berjumlah 18 judul dan kebanyakan dengan masalah kewajiban dan akhlaq. Salah satu karyanya yang memuat pemikiran pendidikannya adalah termuat dalam bukunya “Tahdzib Al-akhlaq” (pendidikan Akhlaq). Ia juga berpendapat bahwa penulisan Sejarah harus di dasarkan atas kajian yang bersifat ilmiah dan filosofis.

Menurut pandangannya, manusia adalah makhluk yang memiliki keistimewaan, karena dalam kenyataannya manusia memiliki daya pikir. Berdasarkan daya pikir itulah manusia dapat membedakan antara yang benar menurut dan yang salah, serta yang baik dan yang buruk. Dan manusia yang sempurna keistimewaannya adalah paling benar cara berpikirnya serta yang paling mulia usaha dan perbuatannya. Selain itu ia  berpendapat bahwa untuk mewujudkan kebaikan merupakan indicator dari tingkat kesempurnaan dan tujuan penciptaan manusia itu sendiri.

B. Konsep Pendidikan Ibnu Maskawih

Konsep pendidikan Ibnu Maskawih dapat dijabarkan sebagai berikut ;

1). Pendidikan Agama

Pendidikan Agama merupakan pendidikan dasar, dan pendidikan dasar diberikan ketika anak masih kecil, ketika pribadinya masih mudah di bentuk. Dalam hal ini anak memerlukan adanya bantuan orang lain, dalam hal ini adalah keluarga. Maka seharusnya anak menyerap tradisi, moral dan agama dari lingkungan masyarakat dimana anak itu di lahirkan. Mereka mempunyai hak untuk diberikan hal-hal positif yang terbaik baginya, mereka harus diperkenalkan ajaran agama yang membewa ajaran moral dan mengajarkannya supaya manusia mempunyai budi pekerti yang luhur. Di samping ajaran tentang ketuhanan, ajaran tentang moral merupakan dasar dalam tiap agama.

2). Dasar Kejiwaan

Dalam hal ini, Ibnu Maskawih mengatakan bahwa pendidikan membuat pikiran-pikiran yang lebih jauh melalui alam sehingga manusia itu perlu dididik. Ia menganalogikan bayi yang baru lahir, anak itu secara alamiah tidak baik dan tidak jahat, ia tidak berdosa, pikirannya bersih seperti papan tulis yang belum ada tulisannya pada saat lahir kita mengambil pengaruh lingkungan kita pada tingkat pemahaman yang ia punya pada levl tertentu. Konsep ini pada era modern diidentikkan dengan konsepnya “Jhon Locke”, yang mengatakan anak itu jiwanya seperti tabularasa (kain putih) yang tergantung pada pengalaman yang diperoleh.

3). Akal

Akal Adalah keinginan dan kemarahan, namun untuk menjalankan fungsi ini secara cukup dan hati-hati membutuhkan bimbingan dari hokum tuhan. Tidak seorangpun menyadarkan dirinya sendiri tanpa bantuan. Dia harus menyerapnya dari tradisi moral dan agama dari keluarga dimana ia dilahirkan, walaupun ia dapat menggali untuk mengembangkan dan menyeleksinya melalui belajar sendiri kemudian.

Sikap agamis pada anak diperolah dari kebiasaan (Tradisi) dan lembaga (Instutision). Anjuran imajinasi, pergerakan aktifasi, ide motorik melalui cara meniru (Imitation). Namun sikap agamis dari para muda hakikatnya salah satukeinginan alami untuk mengetahui arti dan pentingnya praktek – praktek ibadah adalah karena agama dapat membimbingnya dalam kehidupannya di dunia.

Mujamil Qomar, DR, M.Ag., et.al. Meniti Jalan Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. 2003.

Komentar»

1. anisa meidita - November 30, 2012

terimakasih… cukup membantu untuk bahan presentasi saya… (y)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: