jump to navigation

Ijtihad Persepektif Ulama’ Kontemporer November 12, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

DSC000031. Latar Belakang

Ijtihad merupakan dinamika ajaran Islam yang keberadaannya harus dipertahankan untuk menciptakan kehidupan yang kreatif. Hal ini disebabkan Al-Qur’an hanya mmemuat permasalahan-permasalahan secara garis besar. Manusia harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nash-nash Al – Qur’an yang masih garis besar itu kedalam realitas kehidupan masyarakat yang dinamik dan selalu berubah. Jika semangat ijtihad ini ditinggalkan ummat Islam maka yang terjadi adalah stagnasi, padahal  al-Qur’an selalu relefan denagan gerak dan dinamika masyarakat.

1. Ta’rif Ijtihad

Kata ijtihad menurut bahasa berasal dari kata جهد-يجهد –جهدا  yang berarti “berusaha dengan sungguh-sungguh “ Adapun jihad menurut istilah para ulama’ berbeda pendapat diantaranya adalah :

Menurut Imam Al-Ghazali Ijtihad adalah “Upaya maksimal seorang mujtahid dalam memperoleh pengetahuan tentang hokum syara’”

Menurut Al-Amidi Ijthad adalah “mencurahkan segala kemampuan dalam mencari hokum syara’ yang bersifat dzanni, sehingga dirinya tidak mampu lagi lagi mengupayakan yang lebih dari itu “

Menurut Muhammad abu Zahrah yaitu “Usaha seorang faqih yang menggunakan seluruh kemampuannya untuk menggali hokum yang bersifat amaliyah (prakis)dari dalil-dalil yang terperinci”

Adapun ijtihad menurut istilah setelah mengamati beberapa definisi yang di paparkan oleh para ulama’ diatas, adalah “Upaya optimal yang dilakukan oleh mujtahid untuk menemukan suatu hokum yang bersifat amaliyah dan nilai kebenarannya adalah dzanni”

2. Dasar Ijtihad Sebagai Dalil Hukum

Jumhur ulama’ Menunjuk ijtihad menjadi hujjah dalam menetapkan hokum berdasarkan :

  1. Al-Qur’an surat An-Nisa’:59

فان تنازعتم فى شيئ فردوه الى الله والرسول

Artinya:Jika kamu mempersengketakan sesuatu maka kembalikanlah sesuatu

tersebut kepada Allah dan rasulnya.

  1. Hadis yang menceritakan ali RA dan Rasulullah SAW sewaktu siap ditugaskan ke yaman.

قلت يارسول الله الامر ينزل فيه القران ولم نمض فيه منك سنة ؟ قال اجمعو له العا لمين (وفى رواية العابدين )

من المؤمنين فاجعلوه شورى بينكم ولا تقضوافيه برايواحد

Aku bertanya : ya rasullah, berbagai perkara dating padaku yang al-qur;an tidak menurunkan ketentuannya dan tidak ada sebuah sunnahpun  dari engkau ?

Jawab rasulullah :kumpulkan orang-orang alim (ahli ibadah menurut redaksi ini) dari kalangan orang mu;min, kemudian musyawarahkan dengan mereka dan jangan kamu memutuskannya dengan pendapat perorangan.

  1. Secara logika (tinjauan pikiran )

Allah menjadikan syari’at islamsebagai syari’at terakhir yang berlaku untuk setiap tempat dan waktu. Setiap peristiwa yang terjadi didunia ini berapapun jumlahnya harus ada hukumnya dan watak kepribadian syari’at islam itu sesuai untuk setiap masa dan keadaan. Apabila nash-nash syari’at terbatas jumlahnya (tak mungkin dapat ditambah ), maka harus dilakukan ijtihad sebagai alat menggali hokum untuk setiap peristiwa yangterjadi dari nash-nash yang ada. Sekiranya ijtihad dalam mentahqiqkan hokum tidak boleh dilakukan, sedang jumlah nash-nash syar’I terbatas, maka akan terjadi kese4mpitan hidup.

3. Pembagian Ijtihad

Dalam pembagian ijtihad ada beberapa tinjauan, diantaranya adalah obyek kajian dan relevansinya dengan masalah kontemporer. Ijtihad di tinjau dari obyek kajiannya ada dua macam:

Ijtihad Istinbathi Yaitu ijtihad yang dilakukan dengan mendasarkan pada nash-nash syari’at dalam meneliti dan menyimpulkan ide hokum yang terkandung di dalamnya.

Setelah ijtihad ini berhasil, maka hasilnya dijadikan tolak ukur dan diterapkan dalam suatu permasalah hokum yang dihadapi.

Ijtihad Tathbiqi Yatu ijtihad yang dilakukan dengan mendasarkan pada suatu permasalahan yang terjadi di lapangan. Dalam hal ini mujtahid langsung berhadapan dengan obyek hukum di mana ide atau subatansi hokum dari produk ijtihad istinbathiy akan diterapkan.

Seperti itu juga ijtihad ditinjau dari segi relevansinya dengan permasalahan kontemporer ada dua macam, yaitu :

Ijtihad Intiqa’i Adalah ijtihad yang di lakukan oleh seorang atau sekelompok

orang dengan cara memilih pendapat ahli fiqih yang terdahulu dalam suatu masalah, sebagai mana terdapat kitab-kitab fiqih, dengan menyeleksi pendapat yang lebih kuat dalilnya dan lebih relevan untuk diterapkan pada kondisi sekarang.

Ijtihad Insya’i Yaitu pengambilan kesimpulan hukum baru yang belum pernah

dikemukakan oleh para ahli fiqih sebelumnya, baik mengenai masalah yang baru

maupun yang lama.

4. Tingkatan ( Martabat ) Mujtahid

Dilihat dari luas atau sempitnya cakupan bidang ilmu yang mampu diijtihadkan, mujtahid terbagi menjadi empat tingkatan :

Mujtahid mutlak / mustaqil  / fis syar’I :Mereka adalaah orang yang berkemampuan secara mandiri dalam meng ijtihadkan seluruh masalah hokum syari’at dengan norma, kaidah istinbat dan prosedur penggalian hokum ciptaan sendiri.

Mujtahid muntasib : Orang yang berijtihadnya terikat metodologi, norma dan kaidah istinbat hokum imam mujtahid mustaqil tertentu, meskipun hasil ijtihadnya dalam bidang furu’iyah bias berbeda.

Mujtahid fil madzhab / mujtahid takhrij :Mujtahid yang terikat dengan imam madzhab tertentu, baik dalam metodologi istinbat maupun dalam hasil ijtihad. Ia disebut mujtahid karena mempunya kemampuan memecahkan hokum masalah baru yang rumusan hukum nya belum diperoleh dalam literature fiqih madzhabnya. Dalam hal berijtihad senantiasa mengikatkan diri dengan diri dengan methode istinbat imam madzhab yang di anut, denikian pula dengan hukum furu’ (fiqih)yang telah dihasilkan oleh imam madzhabnya. Ijtihad yang mereka lakukan berkisar padsa masalah yang memang belum diijtihadkan oleh imamnya ,selebih itu berkisar pada kesibukan menseleksi beberapa qaul yang dikutip dari dokumentasi ijtihad imam madzhab untuk dinilai mana yang sahih dan mana yang lemah.

Mujtahid murajjih ( faqihunnafsi :Mujtahid yang menekuni studi banding antara pendapat-pendapat berbeda dikalangan ulama’, baik dalam satu madzhab ztau dalam berbagai madzhab, menilai mana yang lebih kuat dalilnya, namun mereka tidak pernah melakukan ijtihad dalam memecahkan masalah baru.

5. Syarat-Syarat Mujtahid

Syara-syarat yang harus dipenuhi seorang mujtahid sebelum melakukan ijtihad menurut Sya’ban Muhammad Isma’il ada sembilan syarat:

Mengetahui bahasa arab dengan baik.

Mengetahui pengetahuan yang dalam tentang al-qur’an.

Memiliki pengetahuan pengetahuan yang mendalam tentang as-sunna.

Mengetahui letak ijma’ dan khilaf.

Mengetahui maqasidussyar’iyah.

Memiliki pemahaman dan penalaran yang benar

Memiliki pengetahuan tentang ushul fiqhi.

Mengetahui tentang manusia dan kehidupan sekitarnya

Niat dan i’tiqd yang benar

Itulah syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh mujtahid sehingga hasil ijtihadnya bisa dipertanggung jawabkan sesuai dengan standard keilmuan yang ada.

6. Metode – metode ijtihad

Dalam upaya penggalian hukum secara optimal, ada dua metode yang disebutklan oleh para ulama’, yaitu meliputi metode / kaidah kebahasaaan dan kaidah Maqasid al-syar’iyah.

  1. a. metode kebahasaan

Metode ini meliputi beberapa hal yaitu; Dzahir, Nash, Mufassar, Muhkam,Khafi, Musykil, Mujmal, mutasyabih, Hakikat, Majaz, A’m, Khash, Muthlaq, Muqayyad, Ibarah al-Nash, Isyarah al-Nash, Dalalah al-Nash, Iqtidla’ al-Nash,Mafhum mukhalafah, Amar, Nahi, Takhyir, Ta’wil,adapun penjelasannya secara singkat  sebagai berikut;

DZAHIR; Dalam hal ini jumhur ulma’ mengartikan sebagai lafadzyang segera dapat ditangkap dari suratan tex, namun masih ada kemungkinan arti lain secara majazi.

NASH; Ialah lafadzyang sama sekali tidak mengandung makna lain (ihtimal)kecuali pengertian yang segera dapat ditangkap nketika mendengar lafadz itu.

MUFASSAR; Adalah lafadz yang menunjukkan kepada maknanya secara jelas dan rinci tanpa adanya kemungkinan untuk ditakwil.Menurut ulama’ ushul fiqh kalangan hanafiyah mufassar dibagi menjadi dua yaiyu;

a.Lafadz yang bermakna helas dan rinci sejak semula tanpa

memerluokan penjelasan lafdadz lain.

b.Lafadz yang pada mulanya mujmal, tidak rinci kemudian

datang penjelasan yang m,erincinya dari pembuat syari’at.

MUHKAM; Adalah lafadz yang menunjukkan kepada makannya secara jelas sehingga sama sekali tidak mengandung ta’wil dan tertutup kemungkinan untuk dinasakh.

KHAFI; Adalah lafadz yang bisa menunjukkan terhadap arti secara jelas, tetapi dalam menerapkan arti itu kepada kasus tertentu merupekan bentuk yang samara dan tidak jelas.Ketidak jelasan ini timbul karena bentuk kasus tersebut tidak persis sama dengan kasus yang ditunjukkan oleh dalil yang ada.

MUSYKIL;Lafadz yangtidak jelas pengertiannya karena banyak makna yang digunakan untuk mengartikan lafadz tersebut, sehingga dalam upaya mengetahui pengrtian mana yang dimaksud sebuah redaksi memerlukan indikasi atau dalil dari luar.

MUJMAL;Lafadz yangt tidak jelas pengertiannya, sehingga untuk memahaminya membutuhkan penjelasan dari luar (Al-Bayan).Adapun al-bayan tersebut terdiri dari;

1.Al-Bayan Bi Al-Qaul 2.Al-Bayan Bi Al-Mafhum 3.Al-Bayan Bi Al-Fi’li

4.Al-Bayan Bi Al-Iqrar  5.Al-Bayan Bi Al-Isyarah 6.Al-Bayan Bi Al-

Kitabah 7.Al-Bayan Bi Al-Qiyas.

MUTASYABIH;Lafadz yang samara maknanya dan tidak ada penjelasan baik dalam al-qur’an maupun al-hadist sehingga pengetahuan tentang lafadz tersebut sepenuhnya ada pada pembuat syari’at, dalam segi formatnya mutasyabih dibagi menjadi dua bagian yaitu mutasyabih lafdzy & mutasyabih mafhum .

HAKIKAT;Lafadz yang di gunakan kepada pengertian aslinya sesuai dengan maksud diciptakannya.

MAJAZ; Penggunaan lafadz kepada selain makna aslinya karena ada qorinah yang menunjukkan makna aslinya.

‘AM ;Lafadz yang menun jukkan makna umum yang mencakup semua satuannya dengan tanpa dibatasi oleh jumlah tertentu.Diantara lafadz yang menunjukkanmakna ‘am adalah :

1.Lafadz yang dimakrifatkan dengan huruf AL ( Al Ma’rifat)

2.Isim Syarat ,seperrti Man من

3.isim maushul

4.Lafadz nakirah yang di nafikan

5.Lafadz kullu

6.Lafadz jami’un

KHASH;Adalah lafadz yang diciptakan untuk menunjukkan pada perorangan.

MUTHLAQ;Adalah lafadz yang menunjukkan suatu satuan tanpa dibatasi secara harfiyaholeh suatu ketentuan.

MUQAYYAD;Adalah lafadz yang menunjukkan suatu nkesatuan yang secara harfiyah dibatasi oleh suatu ketentuan.

‘IBARAH AL-NASH;Sighah atas makna yang segera dapat dipahami dari dalalah tersebut dan dimaksudkan oleh redaksi ungkapan, baik redaksi tersebut dimaksudkan secara asal atau karena mengikuti.

ISYARAH AL-NASH; Pengertian yang tidakl segera dap[at dimengerti dari penunjukan lafadz, dan tidak pula dimaksudkan oleh susunan kata, akan tetapi hanya makna lazim.

DALALAH AL-NASH;Penunjukan lafadz atas ketetapan hokum yang diucapkan terhadap hokum yang didiamkan karena adanya persamaan illatyang di ketahui melalui bahasa dengan tanpa memerlukan ijtihad.

IQTIDLA’ AL-NASH; Pengertian kata yang disisipkan secara tersirat dalam suatu pemahaman suatu redaksi tertentu yang tidak mungkin dipahami dengan benar tanpa adanya sisipan itu.

MAFHUM MUKHALAFAH; Penunjukan lafadz atas ketetapan hokum yang di diamkan sebagai kebalikan dari hokum yang diucapkan. Maksudnya adalah hokum yang ditetapkan dengan mafhum mukhalafah merupakan kebalikan dari hokum yang diucapkan dalam teks.

AMAR; Perintah untuk melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih rendah tingkatannya kepada pihak yang lebih rendah timgkatannya.Bentuk amar dalam al-qur’an diantaranya adalah:

a.Perintah yang jelas dengan memakai lafadz امر

b.Pemberitahuan bahwa perbuatan itu wajib dengan memakai lafadz كتب

c.Jumlah khabarityah tetapi yang dimaksud adalah perintah.

d.Menuntut dengan bentuk kata kerja langsung.

e.Menggunakan lafadz فرض

f. Menyebutkan perbuatan disertai dengan lafadz kebaikan

g.Menyebutkan perbuatan disertai dengan janji

Adapun amar ditinjau dari segi makna adalah; Al-Du’a (permohonan),Al-Irsyad (petunjuk), Al-Ta’jiz ( melemahkan), Al-Ibahah (kebolehan),Al-Ikram (memulyakan).

NAHI; Larangan melakukan sesuatu perbuatan dari tingkatan yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah derajatnya. Bentuk nahi dalam al-qur’an diantaranya adalah:

a.Larangan dengantegas dengan menggunakan kata نهى

b.Larangan dengan tegas dengan menggunakan kata حرم

c.Larangan dengan menggunakan lafadz لايحل

d.Larangan dengan menggunakan fi’il yang didahului LAM NAHI

e.Larangan yang menggunakan fi’il amar yang menunjukkan atas tuntutan mencegah

f.Menyebutkan perbuatan dengan disertai ancaman dosa

g.Menyebutkan perbuatan dengan disertai ancaman

Adapun nahi ditinjau dari segi makna adalah; Addu’a(permohonan), Al-Irsyad (petunjuk), Bayan aqibah (Menjelaskan sesuatu akibat), Al-Ta’is (keputus asaan)

TAKHYIR;Adalah pilihan untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan nya, atau memberikan kebebasan.

TA’WIL;Adalah pemalingan suatu lafadz dari maknanya yang dzahir kepada maknanya yang lain karena adanya dalil yang menunjukkan bahwa makna itulaah yang dikehendaki oleh lafadz tersebut.

Metode maqashid al-syar’iyah

Pada metode ini kajiannya ditekankan pada hal-hal yang tidak secara langsung didapati pada teks dengan memperhatikan tujuan syari’at secara umum.Metode ini meliputi; Qias, Istihsan, Maslahah mursalah, ‘Urf, Istishab, Syar’u man qablana, Madzhab shahabi, Sadz al-dari’ah, Amal ahli madinah, adapun pengertian secara singkat sebagai berikut;

QIYAS;Menurut bahasa adalah “mengukur dan menyamakan sesuatu”adapun menurut istilah adalah menyamakan hokum sesuatu  yang tidak ada ketentuan hukumnya dengan sesuatu yang ada ketentuan hukumnya karena ada persamaan illat diantara keduanya. Disamping itu qiyas bisa dijadikan hujjah harus memenuhin syarat-syarat sebagai berikut

1.Adanya pokok (al-ashlu), yaitu sesuatu yang hukumnya telah ditetapkan oleh al-qur’an, al-hadis

maupun ijmak.

2.Adanya cabang (far’un)sesuatu yang tidak ada ketetapan hukumnya dalam al-qur’an, al-hadist

maupun ijmak .

3.Adanya hukum asal yaitu hokum syara’ yang ditetapkan oleh nash atau ijmak yang akan

diberlakukan kepada cabang.

Adanya illat yaitu sesuatu yang menjadi motivasi hokum.

Adapun mengenai macam-macam qias yaitu;

Qiyas aula ; yaitu illat yang terdapat pada cabang lebih utama dari pada illat yang terdapat

pada pokok .

Qiyas musawi ; Yaitu illat yang terdapat pada cabang sama bobotnya dengan illat yang

terdapat pokok .

Qiyas adna ; Yaitu illat yang ada pada cabang bobotnya lebih rendah.

ISTIHSAN;Menurut bahasa adalah menganggap baik sesuatu, adapun menurut

Istilah, ulama’ berbeda pendapat dan pengertian secara global dari perbedaan tersebut ialah sebenarnya  merupakan perpindahan dalil menuju dalil lain yang lebih kuat atas pertimbangan kemaslahatan. Dan pembagian istihsa sebagai berikut;

1.Istihsan berdasarkan nash;

2.Istihsan bil ijmak

3.Istihsan berdasarkan qiyas khafi

4.Istihsan berdasarkan mashlahah

5.Istihsan berdasarkan ‘urf

6.Istihsan berdasarkan keadaan dlarurat

MASLAHAH MURSALAH ;Secara epistimologi maslahah berarti manfaat, danmursalah berarti lepas. Dua kata ini kemudian digabung menjadi satu istilah yang menurut ahli ushul fiqh berarti; Kemaslahatan yang tidak ditegaskan dalam syari’at untuk merealisasikan dan tidak adapula dalil syara’ yang mendukung dan yang menolaknya .

Adapun pembagiannya adalah;

1.Maslahah al mu’tabarah; yaitu kemaslahatan yang didukung oleh dalil syara’.

2.Maslahahal-mulghah; Yaitu kemaslahatan yang ditolak karena bertentangan dengan ketentuan

syara’.

3.Maslahah al-mursalah Yaitu kemaslahatan yang sesuai dengan tujuan syara’akan tetapi tidak di

dukung dan tidak pula di tolak oleh dalil secara khusus.

Dan agar maslahah mursalah ini bisa diterima sebagai hujjah maka harus ada syarat-syarat yang harus di penuhi, yaitu;

a.Maslahah tersebut harus berupa maslahah yang hakiki dan bukan maslahah yang bersifat

perkiraan.

b.Maslahah tersebut harus bersifat umum bukan bersifat perorangan.

c.Maslahah tersebut harus bersifat tidak bertentangan dengan ketetapan al-qur’an,al-

hadist,maupun ijmak.

‘URF ; Adalah suatu perbuatan atau ucapan yang telah menjadi kebiasaan ditengah-tengah masyarakat.Mcam-macam ‘urf sebagai berikut;

1.’Urf al-shahih ; yaitu kebiasaan yang berlaku ditengah-tengah masyarakat yang tidak

bertentangan dengan nash tidak menghilangkan kemaslahatan dan tidak pula membawa

kemudlaratan. .

2.’Urf al-fasid ; Yaitu kebiasaan yang bertentangan dengan syara’, atau membawa membawa

kemudlaratan dan mencabut kemanfaatan.

Seperti hal yang lain ‘urf juga ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa dijadikan hujjah, yaitu;

a.’Urf harus berlaku secara umum.

b.’Urf harus sudah ada ketika persoalan yang akan ditetapkan hukumnya itu muncul.

C.‘Urf tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam suatu transaksi.

d.‘Urf harus tidak bertentangan dengan nash.

ISTISHAB; Menurut bahasa adalah menyesuaikan sesuatu. Sedang menurut istilah adalahMemberlakukan hokum suatu peristiwa sesuai dengan keadaan semula (hokum asal),selama tidak ada dalil yang menentukan hokum lain yang berbeda dengan hokum asal tersebut.Adapun macam-macamnya adalah;

1.Istishab al-bara’ah al ashliyah;Istishab yang didasarkan bahwa pada dasarnya manusia bebasa dari taklif (beban) sampai adanya dalil yang merubah status tersebut.

2.Istishab al-ibahah al-ashliyah; Yaitu istishab yang didasarkan atas hokum asal yaitu mubah (boleh).

3.Istshabma dalla al-sya’u ‘ala tsubut; Istishab yang didasarkan atas tetapnya hokum yang udah ada sampai adadalil yang mencabutnya.

SYAR’U MAN QABLANA; Yang disebut syar’u man qablana adalah ajaran  atau syari’at para nabi sebelum nabi Muhammad khususnyha mengenai hokum-hukum amaliyah.

MADZHAB SAHABI; Adalah perkataan sahabat rasulullah Menguenai masalah yang tidak ada dalam al-qur’an dan al-hadist.Perkataan para sahabat ini bisa di kelompokkan menjadi tiga katagori, yaitu;

1.Perkataan sahabat yang bukan hasil ijtihad

2.Perkataan sahabat yang tidak dipertentangkan antara mereka (‘ijma’)

3.Perkataan sahabat yang merupakan hasil ijtihad.

SADD AL-DZARI’AH; Menurut istilah sad al dari’ah adalah melakukan suatu pekerjaan yang semula mengandung kemaslahatan untuk menuju kepada suatu kemafsadatan.Dan macam-macamnya ada empat macam;

1.Perbuatan yang dilakukan itu secara pasti akan membawa mafsadat.

2.Perbuatan yang dilakukan itu jarang membawa mafsadat.

3.Perbuatan yang dilakukan itu besar kemungkinan akan membawa mafsadat.

4.Perbuatan yang pada dasarnya mengandung maslahah.

AMAL AHLI MADINAH; Praktek hokum dari suatu masalah yang dilakukan oleh ulama’ madinah. Adapun bentuk-bentuknya adalah;

Perbuatan yang disepakati oleh ulama’ ahli madinah dan tidak ada pertentangan dari ulama’ selain penduduk madinah.

Perbuatan yang disepakati oleh ulama’ madinah dan mendapat pertentangan dari ulama’ selain madinah.

Perbuatan yang dipertentangkan oleh mereka sendiri.

6.MUJTAHID TERMASYHUR DAN METODE PENGAMBILAN HUKUM MEREKA

Para mujtahid yang terkenal dikalangn ulama’ fuqoha’ ahlussunnah  adalah ; imam Abu Hanafi. Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Hanbali. Berikut ulasan secara singkat tentang biodata beliau-beliau;

1.Imam Abu Hanafi

Nama panjangnya adalah An NU’man bin Haris Bin Tsabit Bin Zauty Al-Kufiy, lahir pada tahun 80 H dan wafat pada tahun 150 H. Metode yang dipakai beliau adalah; Al-Qur’an, Al-Hadist, ijmak, Qiyas, Istihsan.

2.Imam Malik

Nama panjangnya adalah Malik Bin Anas Bin Abiy Amir Al- Asba’iy , lahir pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 179 H. Metode yang dipakai beliau adalah; Al-Qur’an, Al-Hadist, ijmak, Qiyas, ‘Amalu Ahli Madinah, Qaulu as-Sahabiy,Istihsan.Sadd Adzari’ah, Menjaga khilaf, Istishhab, Mashlahah al- maursalah, Syar’u man qablana.

2.Imam Syafi’I

Nama panjangnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris al-Qarsy Al-Hasymy Al- Muttaliby bin Al-Abas bin ‘Usman bin Syafi’ , lahir pada tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H. Metode yang dipakai beliau adalah; Al-Qur’an, Al-Hadist, ijmak, Qiyas..

2.Imam Hanbali

Nama panjangnya adalah Abu Abdullah Ahmad bin hanbal bin hilal bin asad ad-Dahili As-Syaibani, lahir pada tahun 164 H dan wafat pada tahun 241 H. Metode yang dipakai beliau adalah; Al-Qur’an, Al-Hadist, ijmak, Qiyas, Istishab, Maslahah Al-Mursalah, Sadd Addari’ah.

Daftar pustaka

1.Dr.Kasui Saiban, Metode Ijtihad Ibnu Rusyd, Kutub Minar, 2005

2. Drs. H.Ahmad Ba Hamid,LS. Assyari’ah Al-Fiqh 3, Departemen Agama RI

1998/1999.

3.Drs.H.Abdul Jabbar Adnan, Dirasat islamiyah IAIN Sunan Ampel, CV. Anika Bahgia

, Surabaya,1995.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: