jump to navigation

STUDI SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL November 22, 2009

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

Pengertian Pendidikan Nasional

Pendidikan nasional adalah Pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Sistem pendidikan nasional adalah Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Jusuf Amir Faesal mengungkap bahwa sistem pendidikan nasional adalah suatu usaha keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional. Atau ringkasnya, sistem pendidikan nasional adalah satu pranata dari sejumlah pranata yang berada dalam sistem pendidikan nasional.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional dinyatakan didalam UU RI No. 2 tahun 1989 pasal 3 :

a     Terwujudnya bangsa yang cerdas

b     Manusia yang utuh beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME

c      Budi pekerti luhur

d     Terampil dan betpengetahuan

e     Sehat jasmani dan rohani

f       Berkepribadian yang mantap dan mandiri

g     Bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan

Jadi tuntutan pendidikan nasional diberlakukan untuk semua satuan pendidikan,

Bisa ditarik kesimpulan Tujuan pendidikan nasional memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

Landasan Pendidikan Nasional

Pelaksanaan pendidikan nasional berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

KELEMBAGAAN PENDIDIKAN

Kelembagaan Pendidikan

Pendidikan nasional dilaksanakan melalui lembaga-lembaga pendidikan baik dalam bentuk sekolah maupun dalam bentuk kelompok belajar. Penyelenggaraan SISDIKNAS dilaksakan melalui dua (2) jalur, ada kalanya berjenjang dan tidak berjenjang. Yaitu melalui jalur pendidikan sekolah dan jalur luar sekolah disingkat PLS.

  1. jalur pendidikan sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan (pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi). Sifatnya sormal, diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan pemirintah ada keseragaman pola yang bersifat nasional.
  2. jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang bersifat kemasyarakatan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan seperti kursus-kursus diluar sekolah yang sifatnya tidak formal.
  3. Jenjang pendidikan adalah satu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang di tetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik serta keluasan dan kedalam bahan pengajaran (UU RI. No. 2 tahun 1989. bab I, pasal I ayat 5).

–       Jenjang pendidikan dasar untuk memberikan bekal dasar, atau pendidikan pertama/serta sampai tamat

–       Jenjang pendidikan menengah selamanya 3 tahun sesudah pendidikan dasar, diselenggarakan di SLTA atau satuan pendidikan sederajat.

–       Jenjang pendidikan tinggi, disebut Perguruan Tinggi yang dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut dan universitas.

PROGRAM DAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Jenis Program Pendidikan

Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya (UU RI No.2 Tahun 1989 Bab I, Pasal 1 Ayat 4 No. 2 Tahun 1989).

  1. pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan dan pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Pendidikan berfungsi untuk sebagaimana acuan umum bagi jenis pendidikan lainnya.
  2. pendidikan jurusan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja pada bidang pekerjaan tertentu. Seperti bidang teknik tata boga, dan busana perhotelan, kerjinan, administrasi, perkantoran, STM dan lain-lain.
  3. pendidikan luar biasa merupakan pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik/mental yang termasuk pendidikan luar biasa adalah SDLB untuk jenjang dasar, dan PLB untuk jenjang pendidikan menengah memiliki program khusus yaitu anak tuna netra, tuna rungu, tuna daksa. Untuk pendidikan gurunya disediakan SGPIB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa) setara dengan Diploma III.
  4. pendidikan kedinasan merupakan pendidikan khusus yang diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan pemerintah dan non departemen.
  5. pendidikan keagamaan merupakan pendidikan khusus yang mempersiapkan peserta didik dalam melaksanakan peranan yang khusus dalam pengetahuan ajaran agama, yang terdiri dari tingkat dasar, menengah dan pendidikan tinggi.

Kurikulum Program Pendidikan

Istilah kurikulum asal mulanya dari Dunia Olah Raga zaman yunani kuno. Curir berarti “pelari” dan Curere artinya “tempat terpaku”, kurikulum kemudian diartikan “jarak yang harus ditempuh” oleh pelari (nana sujana,1989:4) berdasarkan arti yang terkandung kurikulum dalam pendidikan dianalogikan sebagai arena tempat peserta didik berlari untuk mencapai “finish” berupa Ijazah, gelar, diploma(zais, 1976 yang dikutip oleh Muhammad ansyar dan nurtain, 1992:7).

Dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah perangkat atau rencana yang disusun untuk mencapai tuuan pendidikan. Dalam hal ini, kurikulum mencakup dua aspek yaitu aspek kesatuan nasional, dan aspek lokal.

Pengelolaan Pendidikan Dalam Merancang Pengajaran

Cara menjabarkan muatan lokal ke dalam bentuk rancangan pengajaran. Kegiatan ini sudah dimanfaatkan wawasan tentang pendekatan yang digunakan, strategi belajar, metode/teknik, dan sarana.

  1. Faktor penunjang pelaksanaan muatan lokal

-.  Keinginan dari kebanyakan peserta didik untuk cepat memperoleh bekal yang membawakan hasil

-.   Sarana cukup banyak

-.   Ketenangan yang bervariasi

-.  Materi muatan lokal yang sudah tercantum sebagai materi kurikulum dan sudah dilaksanakan secara rutin.

-.  Media masa khususnya media komunikasi visual seperti TV, Radio, Lab, Perpustakaan dan lain-lain.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: