jump to navigation

INTELEGENSI Februari 22, 2012

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

Intelegensi (Kecerdasan)

Setelah agak banyak dibicarakan tentang berpikir, samapilah kita pada pembicaraan sesuatu yang berhubungan dengan kualitas berpikir, yakni kecerdasan pikir atau inteligensi.

  1. Pengertian tentang intelegensi:

Andaikata pikiran kita umpamakan sebagai senjata, bagaimankah kualitas dari senjata itu, tajam atau tidaknya kemampuan berpikir tidak lain kita bicarakan inteligensi (kecerdasan). Sehubungan dengan ini perlu diketahui lebih dahulu apakah intelek dan apakah inteligensi itu.

Intelek: (pikiran), dengan intelek orang dapat menimbang, menguraikan, menghubung-hubungkan pengertian satu dengan yang lain dan menarik kesimpulan.

Inteligensi: (kecerdasan, pikiran), dengan inteligensifunsi pikir dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi/untuk memecahkan suatu masalah. Dengan kata lain inteligensi adalah situasi kecerdasan berpikir, sifat-sifat perbuatan cerdas (inteligen). Pada umumnya inteligen ini dapat dilihat dari kesanggupannya bersikap dan berbuat cepat dengan situasi yang sedang berubah, dengan keadan diluar dirinya yang biasa maupun yang baru. Jadi perbuatan cerdas dicirikan dengan adanya kesanggupan bereaksi terhadap situasi dengan kelakuan yang baru yang sesuai dengan keadaan yang baru.

  1. Tingkat-tingkat kecerdasan:

Kemampuan menyesuaikan diri dengankeadan yang baru tidak sama untuk tiap-tiap makhluk.

Tiap-tiap orang mempunyai cara-cara sendiri. Maka daapt dikatakan, bahwa kecerdasan bertingkat-tingkat. Mungkin ada berbagai-bagai tingkat kecerdasan, tetapi dalam uraian hanya akan diutarakan beberapa tingkat kecerdasan binatang, kecerdasan anak kecil yang belum dapat berbahasa dan tingkat kecerdasan manusia.

A)    Kecerdasn binatang:

Pada mulanya banyak orang berkeberatan digunakan istilah inteligensi pada binatang, karena mereka hanya mau menggunakan istilah itu pada manusia saja. Menurut hasil penyelidikan par ahli, ternyat bahwa kecerdasan itu bertingkat-tingkat. Pendeapat yang menolak dipergunakannya istilah kecerdasan pada binatang, dapat dijelaskan dengan contoh percobaan berikut:

W. Kohler (ahli ilmu jerman) denagn percobaannya seekor kera dikurung dalam sebuah kandang, diluar kandang diletakkan pisang yang jauh jaraknya. Dalam kandang

diletakkan sebuah tongkat. Ternyata setelah kera tersebut tidak dapat meraih pisang maka diambillah tongkat dalam kandang tersebut untuk meraih pisang untuk dimakannya.

Percobaan kedua juga dilakukan oleh W. Kohler seekor kera dikurung dalam kandang. Diluar kandang diletakkan sebuah pisang ynag tidak terjangkau oleh kera. Didalam kandang diletakkan dua buah tongkat yang tidak terjangkau juga untuk meraih pisang. Setelah dicobanya meraih pisang berkali-kali ternyat tidak berhasil, maka disambunglah dua tongkat tersebut sehingga ahirnya pisang berhasil diraihya.

Kesimpulan: Dari kedua percobaan di atas ternyata kera berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan, padanya timbul suatu yang baru, ialah perbuatan yang tidak terkandung di dalam bentuk kelakuan naluri. Kera dapat menolong dirinya dalam situasi yang asing baginya. Maka kelakuannya tersebut kelakuan inteligen, dan kesanggupannya yang demikian disebut intelegensi.

Catatan: kecerdasan pada binatang sangat terbatas, yakni terikat pada suatu yang kongkrit. Sebab kalau tongkat tersubut tidak tampak olehnya, maka tidak mungkin dapat mencari tongkat sendiri untuk meraih pisang. Demikian pula kecerdasan yang dimiliki oleh kera tidak dapat berkembang, karena tidak berkembangnya bahasa pasa hewan.

B)    Kecerdasan anak-anak:

Yang dimaksudkan anak-anak di sini adalah anak-anak kecil lebih kurang umur 1 tahun dan belum dapat berbahasa. Kecerdasan anak-anak dipelajari terutama berdarkan percobaan yang telah diperaktekkan dalam menyelidiki kecerdasan binatang.

Usaha-usaha memperbandingkan perbuatan kera dengan anak-anak kecil membantu para ahli dalam mengadakan penyelidikan terhadap kecerdasan anak. Bahkan jauh sebelum kohler menyelidiki kecerdasan kera, boutan telah mempelajari dan memperbandingkan perbuatan cerdas kera dengan anak-anak binatang.

Hasil penyelidikan boutan dapat memberi kesimpulan sebagai berikut:

–          Anak-anak kecil yang berumur + 1 tahun (belum dapat berbicara) tingkat kecerdasannya hamper sama dengan kera. Sebagian soal-soal yang dihapkan pada kera dapat diselesaikan oleh anak-anak. Oleh karena itu umur anak pada kira-kira satu tahun sering disebut “umur simpanse”.

–          Kemampuan mempergunakan bahasa (berbicara) merupakan garis pemisah antara hewan dengan manusia. Menurut bouton anak-anak yang sudah dapat berbicara sudah bekerja seperti manusia kecil. Dan sudah dapat berbicara majulah ia dan makin lama makin jauh melebihi tingkat kecerdasan kera/simpanse.

Anak yang sudah dapat berbicara cepat memperoleh penyelesaian tentang masalah yang dihadapi. Fungsi bahasa dapat menumbuhkan pengertian permulaan tentang perbuatan dengan unsure dengan situasi, yang hal itu memungkinkan anak dapat melihat hubungan yang teratur tentang apa yang dihadapi.

Dalam segala pernyataan fungsi jiwa, bahasa merupakan suatu momen yang terpenting dalam bentuk kelakuan inteligan manusia adlah bahasa. Dengan bahasa kita dapat membenuk dunia, baik yang kongkrit meupun abstark.

Makin cerdas suatu makhluk, makin kurang cara-cara mengatasi kesulitan dengan jalan meraba-raba/coba-coba. Seolah-olah kecerdasan menentang cara penyelesaian kesulitan dengan menggunakan instink dan coba-coba.

c) kecerdasan manusia:

sesudah anak dapat berbahasa, tingkat kecerdasan anak lenih tinggi dari pada kera. Tingkat kecerdasan manusia (bukan anak-anak) tidak sama dengan kera dan anak-anak. Beberapa hal yang merupakan cirri kecerdasan manusia antara lain:

1)      Penggunaan bahasa:

Kemampuan berbahasa mempunyai faedah yang besar terhadap perkembangan pribadi.

–          Dengan bahasa, manusia dapat menyatakan isi jiwanya (fantasi pendapat, perasaan dan sebagainya).

–          Dengan bahasa, manusia dapat berhubungan dengan sesame, tingkat hubungannya selalu maju dan masalahnya selalu meningkat.

–          Dangan bahasa, manusia dapat membeberkan segala sesuatu, baik yang lalu, yang sedang dialami, danyang belim terjadi, baik mengenai barang-barang yang kongkrit maupun hal-hal yang abstrak.

–          Dengan bahasa, manusia dapat membangun kebudayaan.

2)      Penggunaan perkakas:

Kata Bergson, perkakas adalah merupakan sifat terpenting daripada kecerdasan manusia, dengan kata lain: perkataan, perbuatan cerdas manusia dicirikan dengan bagaimana mendapatkan, bagaimana membuat, dan bagaimana mempergunakan perkakas.

Perkakas adalh sifat, tetapi semua alat merupakan perkakas. Alat merupakan perantara antara makhluk yang berbuat atau objek yang diperbuat. Perkakas mempunyai fungsi yang sama, tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas. Perkakas adalah objek

yang telah dibuat/dibulatkan dan diubah sedemikian rupa sehingga dengan mudah dan dengan cara yang tepat dapat dipakai untuk kesulitan atau mencapai sesuatu maksud.

Perbedaan antara binatang dan manusia:

Binatang: dalam mengatasi kesulitan hidup atau mencapai maksud sebagian dipakai alat yang menjadi miliknya, missal: paruh, kuku, sayap dan sebagainya.

Manusia: menemukan, menggunakan, membuat, dan memelihara perkakas. Untuk mengatasi berbagai problem hidup banyak dipergunakan berbagai perkakas dan perkakas itu selalu dikembangkan, disempurnakan menurut keperluan hidup, antara lain penggunaan api untuk keperluan hidup, lokomotif, timbangan, alat-alan komunikasi dan sebagainya.

a)      Mendapatkan perkakas:

Kecerdasan manusia mendorong untuk mendapatkan segala sesuatu yang dapat memudahkan usaha manusia mencapai kebutuhan-kebutuhan hidup. Untuk itu  manusia tidak hanya menggunakan alat-alat yang dimiliki semata-mata, tetapi mangambil segala sesuatu yang ada di sekitarnya dihunakan sebagai perkakas.

b)      Membuat perkakas:

Perkakas yang digunakan oleh manusia ternyata tidak hanya sekedas diambil dari lingkungan sekitarnya, tetapi manusia juga membuat perkakas untuk keprluannya. Perbuatan perkakas adalah perbuatan yang serempak antara kecerdasan dan keterampilan tangan. Pembuatan perkakas selalu membutuhkan pendapat tengtang tujuan, untuk apa lat dibuat? Penyelesaian perkakas tersebut dengan tujuan 9mendapatkan alat tersebut untuk untuk mencapai tujuan itu?). dan hubungan antara tangan dan perkakas, yakni dapatkah tangan membuat alat itu dan dapatkah tangan menggunakan alat-alat itu?

c)      Memelihara perkakas:

Peranan perkakas dalam segala perbuatan manusia sangat penting. Seirang ahli jiwa mengatakan, bahwa barang-barang yang ada di sekitar manusia adalah perkakas. Manusia tidak hanya dapat mengambil dan menggunakan perkakas uang ada di sekitarnya, tetapi dapat membuat menurut kebutuhannya.

Disamping itu manusia dapat memelihara dan mengembangkan perkakas-perkakas untuk keperluan di masa-masa yang akan dating. Betapa besar pengaruh perkakas bagi manusia. Dengan perkakas-perkakas yang telah dicapai, manusia selalu mencari pendapat-pendapat baru. Penggunaan bahasa, penemuan, penggunaan, pemeliharaan dan penyempurnaan perkakas adlah suatu kebudayaan. Di dalam kebudayaan manusia, menganggap, menghayal, dan berpikir pun memegang peranan. Dengan inteligensinya manusia memperlakukan alam sebagai alat. Oleh sebab itu sepanjang sejarah manusia, macam dan jumlah perkakas yang tak terhingga banyaknya itu kesemuanya tidak terdapat pada binatang.

3)      Macam-macam inteligensi:

a)         Inteligensi terikat dan bebas:

Inteligensi terikat ialah inteligensi suatu makhluk yang bekerja dalam situasi-situasi pada lapangan pengamatan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan vital yang harus segera dipuaskan. Dalam situasi yang sewajarnya boleh dikatakan tetap keadaannya, maka dikatakan terikat. Perubahan mungkin dialami juga, kalau perbuatannya senantiasa diulang kembali. Misalnya inteligensi binatang dan anak-anak yang belum berbahasa.

Inteligensi bebas, terdapat pada manusia yang berbudaya dan berbahasa, dengan inteligensinya orang selalu ingi mengadakan perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan lainyang lebih tinggi dan lebih maju. Untuk hal-hal tersebut menusia menggunakan inteligensi bebas.

b)        Inteligensi menciptakan (kreatif) dan meniru (eksutif)

Inteligensi mencipta ialah kesanggupan menciptakan tujuan-tujuan baru dan mencari alat-alat yang sesuai guna mencapai tujuan itu. Inteligensi kreatif menghasilkan pendapat-pendapat baru seperti: kereta api, radio, listrik, kapal terbang dan sebagainya.

Inteligensi meniru, yaitu kemampuan menggunakan dan mengikuti pikiran atau penemuan hasil orang lain, baik yang dibuat, yang diucapkan maupun yang ditulis.

4)      Factor-faktor yang menentukan intelegensi manusia:

a)      Pembawaan:

Intelegensi bekerja dalam suatu situasiyangberlain-lain tingkat kesukarannya. Sulit tidaknya mengatasi persoalan ditentukan pula oleh pembawaan.

b)      Kematangan:

Kecerdasan tidak tetap statis, tetapi dapat tumbuh dan berkembang. Tumbuh dan berkembang intelegensi sedikit banyak sejalan dengan perkembangan jasmani, umur dan banyak kemampuan-kemampuan lain yang telah dicapai (kematangannya).

5)      Macam-macam tes intelegensi

1)      Test binet-simon.

2)      Test tentera (Army Mental Test) di amerika.

Uraian kedua bab tersebut harap melihat bab lima.

3)      Mntal-test.

Jenis test ini tidak hanya menyelidiki kecerdasan saja tetapi untuk meyelidiki keadaan jiwa dan kesanggupan jiwa. Jadi dengan mental test yang diselidiki meliputi pengamatan, ingatan, fantasi, pikiran, kecerdasan, pwrasaan, perhatian serta kemauan.

Kalau demukian maka test kecerdasan hanya sebagian dari mental test. Di dalkam mental test disusunlah  bermacam-macam  test dengan berbagai metode sesuai dengan segi-segi yang diselidiki.

4)      Scholastic-test:

5)      Test ini tidak hanya untuk menyelidiki kecerdasan anak, tetapi untuk menyeldiki sampai mana kemmampuan anak dan kemajuan anak atau kelasa dalam mata pelajaran di sekolah. Test ini disusun sebagai ujian mengenai mata pelajaran, misalnya : bahas, berhitung, sejarah, ilmu bumi, ilmu alam dan sebagainya. Kalau test ini dilakukan dengan tertib dan teratur dapatlah menggantikan system ujian-ujian yang lazim dilaksanakan sekarang.

B)      Pengaruh tingkat intelegence quotient (iq) terhadap cara berpikir

Pembahasn mengenai tingkat intelegence quotient (IQ) terhadap cara berpikir. Mengenai “cara berpikir” di sini dikhususkan pada prestasi belajar.

Telah kita ketahuibersama bahwa pencapaian prestasi belajar tidak hanya tergantung pada  keadaan diri anak. Anak yang tingkat IQ nya sama pun belum tentu akan mencapai prestasi belajar yang sama. Factor lain di luar anak pn bisa berpengaruh dalam pencapaian prestasi tersebut. Halini sesuai dengan pendapat Bimo Walgito,yang mengatakan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah:

  1. Factor individu yang belajar
  2. Factor lingkungan individu yang belajar
  3. Factor bahan yang dipelajari

Dari sedikit uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: semakin tinggi tingkat IQ dan semakin lingkungan anak mendukung anak untuk berkembang, maka prestasi belajar semakin tinggi, biasanya cara berpikirnya pun juga semakin baik. Sebalikny, semakin rendah tingkat IQ dan semakin lingkungan anak tidak mendukung anak untuk berkembang, maka prestasi belajar yang dicapai anak akan semakin rendah pula, dan jika prestasi semakin rendah,biasanya cara berpikirnya pun semakin juga tidak baik.

Korelasi

Dalam mempelajari kewajiban manusia , lebih banyak  kita hanya

menginterprestasi   (menafsir) gejala- gejala yang  tampak dan kita dapat kita amati .

di samping penafsiran gejala jiwa satu deni satu , tibul suatu pertayaan ; Adakah hubungan

tetap antara gejala jiwa denga keadaan  jesmani? Adakah hubungan  yang tetap antara gejala jiwa yang satu dengan gejala yang lain ?

selanjutnya timbul pula pertayaan : Adakah korelasi antara bentuk tengkorakdengan ingatan ? Bentuk badan dengan watak? Kebodohan dengan kemiskinan? Kemiskinan dengan  kejahatan? umur dengan ingatan? Fantasi dengan pengalama?

Ada tidaknya korelasi tentang hal itu belum dapat di tentukan

dengan pasti, dan hal tersebut sampai kini masih dalam penyelidikan.

Macam macam korelasi

a)      korelasi positif: ada hubungan persesuain antara gejela satu dengan gejala satu dengan gejala lain, kemampuan satu dengan kemampuan yang lain. Misalnya: ada hubungan yang bersesuaian antara menggambar dan menyanyi.

b)      Korelasi negatif: tidak adanya hubungan yang bersesuaian atau sejalan antara kedua sifat, gejala atau kemampuan. Misalnya tidak ada hubungan yang bersesuaian antara minat music dan ilmu pasti.

c)      Korelasi kausal: (kausa=sebab;kausalitas=sebab musabab). Hubungan bersesuaian antara dua hal yang dapat dipahamkan, bahwa yang satu menjadi timbulnya yang lain. Misalnya buruknya keadaan masyarakat dan kejahatan, pemanjaan dan penyelewengan dan sebagainya.

GANGGUAN BERPIKIR

Setelah kita membicarakan fungsi dan peranan, sifat-sifat dan kualitas-kualitas berpikir, maka kita perlu mengetahui beberapa gangguan pikiran yang dapat menimbulkan penyelewengan-penyelewengan berpikir.

Beberapa gangguan berpikir antara lain:

  1. Oligoprenia: tuna kecerdasan (oliges: sedikit; phren; jiwa, pikiran). Penderita oligoprenia seolah-olah dilahirkan dengan vekal-bekal yang terbatas, dan perkembangan inteleknya pun terbatas pula.
  2. Idiota ketunaan yang terberat, terdapat tanda-tanda tidak ada kemampuan  memenuhi hidup sendiri, sukar mengembangkan diri.
  3. Imbesila: dungu, lebih ringan dari pada idiot. Orang yang imbesila sudahdapat mandi sendiri, makamn sendiri,hanya tingkat perkembangan terbatas.
  4. Debilita: tolol, moron, lemh kemampuan. Kemampuannya mendekati orang yang normal, namun taraf kemajuan yang dapat dicapai masih sangat terbatas.
  5. Demensia: mula-mula penderita mengalami perkembangan normal, tetapi sesuatu sebab perkembangannya terhenti dan mengalami kemunduran yang menyolok.
  6. Delusia: (keadaan yang menunjukkan keadaan yang illusive). Delusia sangat erat hubungannya dengan gejala illusi. Penderita mempunyai keyakinan yang kuat tenyang sesutaun, tetapi keyakinan yang kuat sama sekali tidak menurut kenyataan.
  7.  Obsesia: (obsesio: pengepungan).

Pederita seolah-olah dikepung atau dicengkram oleh pikiran-pikiran tertentu yang tidak masuk akal (tidak logis). Makin besar usaha untuk melepaskan diri, makin besar pula ganguan pikiran yang mencekram.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: