jump to navigation

Pendidik dalam Pendidikan Islam September 6, 2015

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

Dalam literatur kependidikan islam seorang pendidik dapat disebut sebagai ustadz, mu’allim, murabby, mursyid, mudarris, dan muaddib. Seorang pendidik dituntut memiliki komitmen terhadap profesionalisme dalam mengembangkan tugasnya. Seorang dikatakan profesional, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen erhadap mutu proses dan hasil kerja, sikap continuous improvement.

Selain itu pendidik di tuntut untuk mampu menjelaskan hakikat ilmu pengetahuan yang diajarkannya, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, berusaha membangkitkan perserta didik untuk mengamalkannya.

Manusia sebagai khalifah-Nya diberi tugas untuk menumbuh kembangkan kreatifitasnya agar mampu mengkresi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan mala petaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekita
rnya.[1]

Seorang pendidik ditintut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya. Oleh karena itu sistem seleksi pendidik harus lebih memperhatikan kompetensi atau seperangkat kemampuan yang dimiliki pendidik dengan menunjukkan bahwa ia mampu melaksanakan tugas kependidikan secara Intelegent dan penuh tanggung jawab, karena pada dasarnya ia adalah seorang pemimpin dalam mendidik karakter serta etika peserta didik dan hal itu akan dipertanggung jawabkan sesuai dengan ajaran agama islam.

Profesionalisme pendidik merupakan bagian inti dari suatu pengajaran. Bersikap komitmen terhadap mutu hasil kerja, mampu untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah diajarkannya.

Sebagai seorang pendidik yang komitmen terhadap profesianalisme seyogyanya tercermin dalam segala aktifitasnya. Memiliki pengetahuan yang dapat mengembangkan peserta didik untuk membangun spiritual keagamaan yang kuat.

Bagi seorang yang beriman dan telah berpengetahuan betapa mulyanya, seperti yang tertuang dalam firman Allah  yang artinya: “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.”

Seorang pendidik, paling tidak memiliki tiga kualifikasi dasar, yaitu menguasai materi, antusiasme, dan penuh kasih sayang (loving)terhadap peserta didiknya. Humanisme religius dalam proses belajar mengajar merpakan suatu hal yang patut diperhatikan, karena humanisme religius adalah sebuah konsep keagamaan yang menempatkan manusia sebagai manusia, serta upaya humanisme ilmu-ilmu dengan tetap memperhatikan tanggung jawab Hablum minallah dan Hablum Minannas.

Dalam persepektif humanisme religius, pendidik tidak dibenarkan memandang peserta didik dengan mata sebelah, tidak sepenuh hati, atau bahkan memandang rendah kemampuannya. Dalam hal ini segala bentuk peserta didik adalah satu kesatuan yang tidak boleh runtuh satu persatunya, dengan artian semuanya adalah sama.

Sebagai seorang pendidik, metodologi pembelajaran merupakan suatu hal yang harus dimiliki. Metode tidak hanya diartikan sebagai cara mengajar dalam proses pembelajran bagi seorang pendidik, tetapi dipandang sebagai upaya perbaikan komprehensif dari semua elemen pendidikan, sehingga menjadi sebuah iklim yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Menjadi peserta didik sepantasnya untuk tidak melupakan terhadap enam dasar mencari ilmu, seperti yang tertuang dalam kitab Ta’limul Muta’allim yakni modal, semangat, waktu yang memadai, petunjuk guru, keuletan (kesabaran), dan kecerdasan[2]. Dasar-dasar ini merupakan sebuah kitipan yang terjadi pada abad XIII. Selama ini banyak pihak yang menganggap kuno, dan anggapan mereka tidak didasari pembahasan dan argumen yang mendalam.

Materi pembelajaran yang tertuang dalam kurikulum sepantasnya tidakalah terlalu berlebihan. Kurikulum terlalu padat akan membuat peserta didik  kelelahan, akibatnya peserta didik akan kekeringan creativity.

Dalam menjalani belajar mengajar, aspek evaluasi adalah hal terpenting sebagai ending atau hasil dari suatu pembelajaran. Peserta didik harus dipandang sebagai individu yang memiliki otoritas individu, mampu mengambil keputusan yang didasari sikap tanggung jawab sejak dini.

Dalam evaluasi peserta didik, mengupayakan peserta didik mampu mengingat, menghafal sekian materi yang telah dikenalkan pendidik. Dan proses itu bisa menjadi baik jika dorongan dari pendidik saling bekerjasam, dengan kata lain pendidik memotivasi mereka secara jasmani dan rohani.

Sarana dan prasarana merupakan alternatif pengembangan pendidikan. Sarana adalah semua peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalam proses belajar mengajar. Hal ini telah dituangkan dalam kitab Risalatul Mu’awanah yang menjelsakan bahwa sarana dan prasarana merupakan dasar dalam hal mencapai suatu tujuan.[3]

            Seorang muslim berpandangan bahwa interaksi dalam proses pembelajaran antara pendidik dan peserta didik atau dengan subyek yang lain hendakalah berpakaian yang rapi dan sopan seperti yang telah diperintahkan dalam islam. Perempuan muslimah hendaklah memanjangakan pakaiannya hingga menutup leher dan seluruh dadanya.

Selaku orang tua yang hidupnya ada disisih buah hatinya mempunyai peran yang sangat penting untuk mendidik anak-anaknya sebelum mereka terjerumus dalam lubang kejelekan. Peran fisik orang tua tidaklah mendukung untuk membangun karakter seorang anak yang baik, namun peran jiwa atau do’a orang tua akan menutupi dari kekurangan yang ada pada jasmani. Dalam islam telah diajarkan bahwa do’a adalah pedangnya orang muslim.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bakri Masykuri. 2011. Formulasi dan Implementasi kebijakan Pendidikan Islam. Surabaya: Visi Press Media

Risalatul Mu’awanah (5)

Ta’limul Muta’allim

http://bambumoeda.wordpress.com/2012/06/11/pengertian-pendidikan-islam/

 

[1] Bakri Masykuri. 2011. Formulasi dan Implementasi kebijakan Pendidikan Islam. Surabaya: Visi Press Media

[2] Ta’limul Muta’allim

[3] Risalatul Mu’awanah (5)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: