jump to navigation

SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF September 8, 2015

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua arah perkembangan. Ada tasawuf yang mengarah kepada teori-teori perilaku, dan ada pula tasawuf mengarah pada teori-teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam. Pada perkembanagnnya, tasawuf  berorientasi kearah pertama yaitu, tasawuf Salafi, tasawuf Akhlaqi, atau tasawuf Sunni. Tasawuf ini dikembangkan oleh ulama’ salaf. Yang kedua disebut sebagai tasawuf Falsafi. Tasawuf ini banyak dikembangkan para sufi yang berlatarbelakang sebagai filosof, disamping sebagai sufi.[1]

  1. Sejarah Perkembangan Tasawuf Salafi (Akhlak)

Pada mulanya tasawuf merupakan perkembangan dari pemahaman tentang makna institusi-institusi islam yang berorientasi kepada aspek spiritual dalam berupaya membersihkan jiwa, pola yang dilakukan adalah dengan cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan keagungan Tuhan dan bebas dari egoisme.

Sejarah dan perkembangan tasawuf salafi (akhlaki) mengalami beberapa fase sebagai berikut:

  1. Abad kesatu dan kedua Hijriyah

Disebut pula dengan fase asketisme (zuhud). Hal ini dipandang munculnya tasawuf. Pada fase ini, terdapat individu-individu yang lebih memusatkan kepada ibdah kepada Allah. Dalam aplikasinya mereka tidak mementingkan makanan, pakaian maupun tempat tinggal. Mereka lebih mendominasi terhdap amaliyah al-Ukhrawiayah yang acuannya kepada sikap asketis. Diantara tokoh-tokohnya adalah Hasan Al-Bashri (W. 110 H), dan Rabi’ah Al-Adawiyah (W. 185 H). Kedua ini dijuluki sebagai Zahid.

  1. Abad ketiga Hijriyah

Sejak abad ketiga para sufi mulai menaruh perhatiannya kepada hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku. Perkembangan doktrin-doktrin dan tingkah laku sufi ditandai dengan upaya menegakkan moral di tengah terjadinya dekadensi moral yang berkembang pada waktu itu, sehinggga di tangan mereka, tasawufpun berkembang menjadi ilmu moral keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan.

Pada abad ketiga terlihat perkembanagn tasawuf yang pesat, ditandai dengan adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang masa itu. Mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa
  2. Tasawuf yang berintikan ilmu akhlak
  3. Tasawuf yang berintikan metafisika
  4. Abad keempat Hijriyah

Abad ini ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan abad ketiga Hijriyah, karena usaha maksimal para ulama’ tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawufnya masing-masing. Akibatnya kota Baghdad yang hanya satu-satunya kota yang terkenal sebagai pusat kegiatan tasawuf yang paling besar sebelum masa itu, tersaingi oleh kota besar lainnya.

Upaya untuk mengmbangkan ajaran tasawuf di luar kota Baghdad, dipelopori oleh bebrapa ulama’ tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain:

  1. Musa Al-Anshari
  2. Abu Hamid bin Muhmamad Ar-Rubazy
  3. Abu Zaid Al-Adamy
  4. Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab As-Saqafy.

Perkembangan tasawuf di berbgai negeri dan kota tidak mengurangi perkembangan tasawuf dimkota Baghdad bahkan penulisan kitab-kitab tasawuf mulai bermunculan seperti, Qutubul Qultib Fi Mu’amalatil Mahbub,yang dikarang oleh Abu Thalib Al-Makky (W.386 H).

Ciri-ciri lain yang terdapat dalam abad ini, ditandai dengan samakin kuatnya unsur filsafat yang memengaruhi corak taswuf dalam hal ini muncul pada awal masa Daulah Abbasiayah. Pada abad ini jaga dijelaskan atas perbedaan antara ilmu zahir dan batin, yang dapat dibagi menjadi empat:

  1. Ilmu Syari’ah
  2. Ilmu Thariqah
  3. Ilmu Haqiqah
  4. Ilmu Ma’rifah
  5. Abad kelima Hijriyah

Pada abad ini muncullah Imam Al-Ghazali, yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bertjuan asketisme, kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Beliau mengkaji tasawuf secara mendalam. Disisi lain lain beliau juga melancarakan kritikan terhadap para filosof, kaum Mu’tazilah dan Bathniyah. Al-Ghazalilah yang berhasil memancangkan prisnsip-prinsip tasawuf yang moderat, yang seiring dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan bertentangan dengan tasawuf Al-Hallaj dan Abu Yazid Al-Bustami terutama mengenai karakter manusia.

Pada abad kelima ini. Tasawuf cenderung mengadakan pembaharuan, yakni dengan mengembalikannya ke landasan AL-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qusyairi dan Al-Harawi dipandang sebagai tokoh sufi yang paling menonjol pada abad ini yang memberi bentuk tasawuf sunni.

  1. Abad keenam Hijriyah

Sejak abad ini, sebagai akibat pengaruh kepribadian AL-Ghazali yang begitu besar, pengaruh taswuf sunni semakin meluas ke seluruh pelosok dinia islam. Keadaan ini memberi peluang munculnya tarekat-tarekat dalam rangka memndidik muridnya, seperti Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i dan Sayiid Abdul Qadir Al-Jailani.

Al-Ghazali dipandang sebagai pembela tasawuf salafi (akhlaqi). Kepribadian dan keluasan pengetahuan serta kedalaman tasawuf Al-Ghazali lebih besar dibanding para sufi yang diiringinya pada abad ketiga dan keempat serta Al-Quayairi dan Al-Harawi. Ia diklaim sebagai seorang sufi terbesar dan terkuat pengaruhnya dalam khazanah ketasawufan di dunia islam.[2]

 

 

  1. Sejarah Perkembangan Tasawuf Falsafi

Tasawuf falsafi, disebut pula tasawuf Nazhari, merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan rasional sebagai pengasasnya. Tasawuf ini dalam khazanah islam mulai muncul pada abad keenam hijriyah, meski tokohnya baru dikenal seabad kemudian. Sekaligus mempunyai perkembangan yang didominasi oleh para sufi sekaligus filosofis hingga akhir ini.[3]

Diantara tokoh-tokoh dala tasawuf falsafi adalah Ibn Musarrah. Nota bene beliau adalah Cordova, Andalusia serta menebarkan tasawufnya di negaranya sekaligus dapat disebut sebagai filosofis sufi pertama di dunia islam.

Tokoh lain adalah Suhrawardi Al-Maqtul yang berpenganut emanasi, yang mirp dengan emanasi Al-Farabi atau Ibnu Sina. [4]

  1. Sejarah Perkembangan Tasawuf Syi’i

Diluar dua aliran tasawuf akhlqi (sunni) dan tasawuf falsafi, ada juga yang memasukkan tasawuf aliran ketiga, yaitu tasawuf syi’I atau syiah. Kaum syiah merupakan golongan yang dinisbatkan kepada pengikut Ali bin Abi Thalib. Dalam sejarahnya, setelah perang shiffin, orang – orang pendukung fanatik Ali memisahkan diri dan banyak berdiam di daratan Persia, dan di Persia inilah kontak budaya antara Islam dan Yunani telah berjalan sebelum dinasti Islam berkuasa disini. Oleh karena itu, perkembangan tasawuf syi’I dapat di tinjau melalui kacamata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran – pemikiran filsafat Yunani.

Ibnu Khaldun dalam AL-Muqaddimah telah menyinggung soal kedekatan syi’ah dengan tasawuf, Ibnu Khaldun melihat kedekatan tasawuf filosofis dengan sekte Isma’iliyyah dari Syiah. Sekte ini menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan pada imam mereka. Menurutnya kedua kelompok ini memiliki kesamaan, khususnya dalam persoalan “quthb” dan “abdal”. Bagi para sufi filosof,quthb adalah puncaknya kaum ‘arifin, sedangkan abdal merupakan perwakilan. Ibnu Khaldun menyatakan doktrin seperti ini mirip dengan doktrin Isma’iliyyah tentang imam dan para wakil. Begitu juga dengan pakaian compang camping yang disebut – sebut berasal dari imam Ali.

  1. Sejarah Perkembangan Tasawuf di Indonesia

bila membicarakan tentang sejarah dan pemikiran tasawuf di indonesia, aceh memainkan peran yang sangat penting. karena aceh merupakan wilayah yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah indonesia khususnya , umumnya dengan malaysia, thailand, brunei darussalam, dan negara semenanjung malaya.untuk itu tentang sejarah pemikiran tasawuf di indonesia, aceh menempati posisi pertama dan strategis, karena nantinya akan mewarnai perkembangan tasawuf di indoensia secara keseluruhan.

Diantara para pelopor berkembangnya aliran tasawuf di Indonesia, sebagaimana yang disebutkan dibeberapa literatur diantaranya adalah : Nuruddin Ar Raniri ( wafat tahun 1658 M ), Abdur Rauf As Sinkili (1615 -1693 M ), Muhammad Yusuf Al makkasary ( 1629-1699 M ). Hamzah Fansuri, Syaikh Siti Jenar, dan Syekh Yusuf Al-Makassari.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://makalahkuliahjurusanpai.blogspot.com/2011/06/sejarah-perkembangan-tasawuf-salafi.html

http://asmadinsimarmata.blogspot.com/2011/04/perkembangan-tasawuf-di-indonesia.html

Sholihin, Muhammad, Anwar Rosihan. 2008. Ilmu Tasawuf. Bandung 40253: CV PUSTAKA SETIA 

Subchi, Imam. 2006. Sejarah Kebudayaan Islam MA Kelas XII. Jakarta: PT. Listafariska Putra

 

[1] Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rofi’ Utsman dari Madkhal ila At-Tashawwuf Al-Islam, Pustaka, Bandung, 1985, hlm. 140

Lihat pula Abdul Aziz Dahlan, Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi: Tinjauan Filosofis, dalam jurnal Ulumul Qur’an, vol.II, 1991/1411 H., L-Saf, Jakarta, hlm. 28-32.

[2] Uraian lebih lanjut tentang sejarah dan perkebangan tasawuf salafi dapat dilihat pada Ibid., Hamka, Tasawuf: Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986; H.A. Musthofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung, 2007.

[3] Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, hlm. 187

[4] Dahlan, Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi…., hlm. 51.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: