jump to navigation

SUBJEK PENDIDIKAN September 8, 2015

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

Subjek pendidikan adalah orang yang berkenaan langsung dengan proses pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik. Peserta didik yaitu pihak yang merupakan sabjek terpenting dalam pendidikan.Hal ini disebabkan atau tindakan pendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah untuk membawa anak didik kepada tujuan pendidikan Islam yang dicita-citakan.[1]

Dalam catatan lain menyebutkan subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan.

Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua).

Untuk mendapatkan keterangan yang jelas tentang subjek pendidikan kita harus melihatnya dari definisi yang ada.[2]

Maka dengan demikian subjek pendidikan Islam yaitu semua manusia yang berproses dalam dunia pendidikan baik formal, informal maupunnonformal yang sama-sama mempunyai tujuan demi pengembangan kepribadiannya. Sehingga menjadi insan yang mempunyai kesadaran penuh kepada sang pencipta.

  1. Pendidik
    1. Pengertian pendidik

Secara etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan.Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang pendidikan.[3]

Pengertian pendidikan mencakup tiga pengertian sekali gus yakni tarbiyah, ta’lim, ta’dib. Maka dapat kita ambil pemahaman, pengertian pendidik dalam islam adalah Murabbi, Mu’allim dan Mu’addib.

Pengertian mu’allim mengandung arti konsekuensi bahwa pendidik harus mu’allimun yakni menguasai ilmu, memiliki kreatifitas dan komitmen yang tinggi dalam mengembangkan ilmu.[4]

Sedangkan konsep ta’dib mencakup pengertian integrasi antara ilmu dengan amal sekaligus, karena apabila dimensi amal hilang dalam kehidupan seorang pendidik, maka citra dan esensi pendidikan Islam itu akan hilang.sehingga muaddibdapat diartikan sebagai orang yang beradap sekaligus memiliki peran dan fungsi untuk membangun peradapan yang berkualitas di masa depan.[5]

Dan murobbydiartikan manusia sebagai kholifahnya diberi tugas untukmenumbuh kembangkan kreatifitasnya agar mampu mengkreasi, sekaligus mengaturdan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat, dan alam sekitar.[6]

Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata ustaz, Mudarris, Mu’allim, dan mu’addib. Secara keseluruhan kata-kata tersebut terhimpun dalam satu kata pendidik karena semua kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada orang lain.

Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, antara lain:

  1. Ahmad D. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik.
  2. Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidik dalam Islam sama dengan teori di barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.
  3. Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

 

  1. Syarat pendidik
    1. Syarat fisik

Seorang pendidik harus berbadan sehat, tidak memiliki penyakit yang mungkin akan mengganggu pekerjaannya. Seperti penyakit menular.

  1. Syarat psikis

Seorang pendidik harus sehat jiwanya (rohani)nya, tidak mengalami gangguan jiwa, stabil emosi, sabar, ramah , penyayang, berani atas kebenaran, mempunyai jiwa pengabdian, bertanggung jawab dan memiliki sifat-sifat positif yang lainnya.

  1. Syarat keagamaan

Seorang pendidik harus seorang yang beragama dan mengamalkan agamanya. Disamping itu dia menjadi figur dalam segala aspek kepribadiannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahl (16): 43-44

  1. Syarat teknis

Seorang pendidik harus memiliki ijazah sebagai bukti kelayakan pendidik menjadi seorang guru.

 

  1. Syarat Pedagogis

Seorang pendidik harus menguasai metode pengajaran, menguasai materi yang akan diajarkan, dan ilmu lain yang mendukung ilmu yang dia ajarkan.

 

  1. syarat administrative

Syarat pendidik harus diangkat oleh pemerintah, yayasan atau lembaga lain yang berwenang mengangkat guru. Sehingga ia diberi tugas untuk mendidik dan mengajar. Dan dia benar-benar mengabdikan dirinya sepenuh hati dalam provesinya sebagai guru.[7]

Semua ketentuan tentang pendidik di atas, itu hanya terbatas pada kriteria pendidik dalam dunia pendidikan, karena itu cakupannya lebih sempit dan terbatas. Untuk melengkapi kriteria subjek pendidikan dalam arti yang luas, berikut akan kami paparkan Tafsir surat Ar-Rohman ayat 5-6 dan An-Nahl ayat 43-44.

  1. Tafsir Ar-Rahman ayat 1-6
    1. (Tuhan) yang Maha pemurah,
    2. Yang telah mengajarkan Al Quran.
    3. Dia menciptakan manusia.
    4. Mengajarnya pandai berbicara.
    5. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.
    6. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan Kedua-duanya tunduk kepada nya.

Ar-Rahman ayat 1-4 ini menjelaskan tentang bagaimana Allah dalam sifatnya Yang Maha kasih sayang telah mengajarkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw. untuk kemudian dijadikan landasan utama bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Kemudian Allah menciptakan manusia dan mengajarkan bayan kepadanya.  Para ulama beda pendapat dalam menafsirkan kata bayan. Menurut Qotadah, bayan adalah kebaikan dan keburukan, tafsir wajiz menafsirkannya dengan Al-Quran yang di dalamnya mengandung penjelasan tentang segala sesuatu, atau mengajarkan tentang berbicara kepada Adam. menurut Hasan, bayan adalah berbicara. Pendapat ini dianggap kuat oleh Ibnu Katsir dengan alasan bahwa konteks kalimat adalah Allah mengajarkan Al-Quran, maka untuk mempermudah dalam pembelajaran Al-Quran tersebut kemudian Allah mengajarkan berbicara kepada manusia.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa subjek pendidikan adalah yang memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan proses pendidikan. Pada surat Ar-Rahman ayat 1-6 telah jelas dikatakan bahwa yang melakukan proses pengajaran Al-Quran dan bayan adalah Allah swt. maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi subjek pendidikan paling utama adalah Allah swt. Allahlah yang telah mengajarkan kepada manusia bagaimana menangis, berjalan, berbicara sampai manusia bisa menggunakan panca inderanya. Kemudian manusia tumbuh dewasa dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, pada saat itulah secara tidak langsung Allah pun mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana cara menggunakan akalnya, begitulah seterusnya sehingga manusia bisa memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

Pada surat Ar-Rahman ayat 5, secara eksplisit Allah mengajarkan manusia tentang Astronomi. Dimana manusia bisa menggunakan matahari dan bulan sebagai acuan dalam perhitungan tanggal.Penentuan tanggal ini dilandasi oleh adanya peredaran matahari dan bulan yang beredar sesuai perhitungan yang dikehendaki oleh Allah.Peredaran ini sangat teratur dan memungkinkan adanya kehidupan di dunia.

Adapun pada surat Ar-Rahman ayat 6, Allah menjelaskan tentang bagaimana taatnya tumbuh-tumbuhan dan pepohonan kepada perintah Allah swt. Ketaatan mereka kepada Allah merupakan kehendak Allah yang tak bisa ditawar oleh siapapun.

 

  1. Tafsir An-Nahl ayat 43-44

Pada surat An-Nahl ayat 43, Allah menjelaskan bahwa semua rasul Allah itu adalah manusia yang diberi wahyu bukan malaikat. Tugas utama rasul adalah tabligh (menyampaikan) wahyu dari Allah swt.tak peduli apakah tabligh itu diterima oleh kaumnya atau tidak, tugas rasul hanyalah tabligh. Isi dari tabligh adalah menyampaikan berita gembira (basyiiran) dan berita menakutkan (nadziran). Tentu saja dalam proses penyampaian ini ada proses pembelajaran, yaitu suatu proses yang merubah tingkah laku suatu kaum, dari musyrik menjadi tauhid, dari kufur menjadi iman walaupun tidak semuanya berubah. Dengan demikian maka rasul adalah subjek belajar kedua setelah Allah swt.

Masih dalam ayat 43, Allah menegaskan kepada orang-orang kafir jika kalian tidak percaya bahwa rasul adalah manusia, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan (ahladzdzikri) tentang hal tersebut. Melalui ayat ini kita bisa mengetahui bahwa ketika kita tidak menguasai suatu bidang ilmu, maka hendaknya kita bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang ilmu tersebut, dengan demikian maka kita akan mendapatkan jawaban yang meyakinkan karena dijawab oleh Ahlinya.

Jika kita tarik ke dalam teori pendidikan, maka proses pembelajaran yang disampaikan oleh Allah ini adalah proses pembelajaran inquiry. Yaitu suatu proses pembelajaran dimana anak didik menemukan masalah dan secara aktif siswa tersebut mencari jawabannya. Dalam ayat ini musyrikin Quraisy merasa tidak yakin akan kerasulan Nabi Muhammad, karena Nabi Muhammad adalah seorang manusia, maka Allah memerintahkan kepada musyrikin Quraisy tersebut untuk mencari jawabannya sendiri kepada orang-orang Ahli Kitab, tentang rasul mereka sebelum Nabi Muhammad, apakah berbentuk manusia atau malaikat. Dengan demikian maka subjek pendidikan pada lanjutan ayat 43 ini adalah musyrikin Quraisy atau dalam konteks pendidikan adalah peserta didik.Adapun ahludzdzikri hanyalah sebagai fasilitator atau sumber belajar saja.

Pada ayat 44, Allah menegaskan bahwa kedatangan para rasul terdahulu itu disertai dengan mukjizat dan kitab-kitab sebagai bukti bahwa mereka adalah orang pilihan yang diutus oleh Allah swt.Dalam konteks pendidikan peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitar kita merupakan sumber belajar yang tak ternilai harganya. Jika umat terdahulu dengan melihat langsung terhadap mukjizat para rasul maka mereka semakin yakin akan kerasulannya serta semakin kuat keimanannya kepada Allah, maka untuk umat akhir zaman, dengan memperhatikan alam semesta yang terus berkembang dan mengalami perubahan maka manusia bisa memetik pelajaran dari peristiwa alam tersebut yang jika sumbernya dirunut terus menerus maka pada akhirnya akan kembali kepada sang pencipta Allah swt. Jika pengetahuan ini telah ditemukan maka kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku yang bisa dibaca kapan saja oleh generasi selanjutnya.Awal dari ayat ini menegaskan secara tidak langsung bahwa sumber belajar itu adalah bayyinat (mukjizat, peristiwa alam) dan zubur (kitab-kitab, buku).

Pada lanjutan ayat 44, ayat ini menegaskan bahwa Allah swt.menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad sebagai media penjelasan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka. Lanjutan ayat ini sesuai dengan awal ayat, bahwa buku adalah salah satu sumber belajar, hanya saja buku/kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Al-Quran.Lanjutan ayat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul merupakan salah satu subjek pendidikan bagi kaumnya, sebagaimana disebutkan di atas bahwa tugas rasul adalah tabligh.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diantara subjek pendidikan yang terkandung dalam surat Ar-Rahman ayat 5-6 dan An-Nahl ayat 43-44 adalah :

  1. Allah swt. sebagai peletak dasar pendidikan bagi manusia, melalui penciptaan kehendak, panca indera dan akal.
  2. Para Rasul, mereka merupakan subjek belajar kedua setelah Allah swt. Setelah Allah memberikan bekal yang cukup bagi manusia untuk belajar, maka kemudian Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan ajarannya.
  3. Subjek pendidikan ketiga adalah umat manusia itu sendiri, dalam arti atas petunjuk dari Allah dan Rasulnya maka hendaknya manusia bisa menemukan sendiri pengetahuan yang dibutuhkannya.

Jika ditarik ke dalam dunia pendidikan maka rasul adalah sebagai guru yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik umatnya (peserta didik). Pada saat yang sama peserta didik juga sebagai subjek pendidikan yang secara aktif menggali berbagai pengetahuan di bawah bimbingan guru. Ini sangat sesuai dengan teori pendidikan modern yang menjadikan siswa sebagai subjek pendidikan bukan sebagai objek pendidikan.[8]

 

  1. Peserta didik

Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu.

Peserta didik juga dikenal dengan istilah lain seperti Siswa, Mahasiswa, Warga Belajar, Pelajar, Murid serta Santri.

Pendidikan merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik terhadap peserta didik menuju kedewasaannya.Sejauh dan sebesar apapun bantuan itu diberikan sangat berpengaruh oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan peserta didik untuk di didik.

Sesuai dengan fitrahnya manusia adalah makhluk berbudaya, yang mana manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak mengetahui apa-apa dan ia mempunyai kesiapan untuk menjadi baik atau buruk.[9]

Terlepas dari perbedaan istilah di atas, yang jelasnya peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam sebagai objek sekaligus subjek dalam proses pendidikan. Ia adalah orang yang belajar untuk menemukan ilmu. Karena dalam Islam diyakini ilmu hanya berasal dari Allah, maka seorang peserta didik mesti berupaya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah dengan senantiasa mensucikan dirinya dan taat kepada perintah-Nya. Namun untuk memperoleh ilmu yang berasal dari Allah tersebut, seorang peserta didik mesti belajar pada orang yang telah diberi ilmu, yaitu guru atau pendidik. Karena peserta didik memiliki hubungan dengan ilmu dalam rangka upaya untuk memiliki ilmu, maka seorang peserta didik mesti berakhlak kepada gurunya. Akhlak tersebut tentunya tetap mengacu kepada nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Qur’an dan hadis.[10]

Samsul Nizar dalam “Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis” menyebutkan beberapa deskripsi mengenai hakikat peserta didik sebagai berikut:

  • Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, tetapi ia memiliki dunianya sendiri. Hal ini perlu dipahami, agar perlakuan terhadap mereka dalam proses pendidikan tidak disamakan dengan pendidikan orang dewasa.
  • Peserta didik adalah manusia yang memiliki perbedaan dalam tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhannya. Pemahaman ini perlu diketahui agar aktivitas pendidikan islam dapat disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang umumnya dialami peserta didik.
  • Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi baik yang menyangkut kebutuhan jasmani atau rohani.
  • Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki berbagai perbedaan individual (individual differentiations) baik yang disebabkan karena faktor bawaan maupun lingkungan tempat ia tinggal.
  • Peserta didik merupakan makhluk yang terdiri dari dua unsur utama: jasmani dan ruhaniah. Unsur jasmani berkaitan dengan daya fisik yang dapat dkembangkan melalui proses pembiasaan dan latihan, sementara unsur ruhani berkaitan dengan daya akal dan daya rasa.
  • Peserta didik adalah makhluk Allah yang telah dibekali berbagai potensi (fitrah) yang perlu dikembangkan secara terpadu
  1. Kebutuhan Peserta Didik

Adapun yang menjadi kebutuhan siswa antara lain :

  1. Kebutuhan Jasmani. Hal ini berkaitan dengan tuntutan siswa yang bersifat jasmaniah.
  2. Kebutuhan Rohaniah. Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan siswa yang bersifat rohaniah
  3. Kebutuhan Sosial. Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesama peserta didik dan Pendidik serta orang lain. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembaga tempat para siswa belajar, beradaptasi, bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial dan kecakapan.

Kebutuhan Intelektual. Setiap siswa tidak sama dalam hal minat untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. Dan peserta didik memiliki minat serta kecakapan yang berbeda beda. Untuk mengembangkan nya bisa ciptakan pelajaran-pelajaran ekstra kurikuler yang dapat dipilih oleh siswa dalam rangka mengembangkan kemampuan intelektual yang dimilikinya.[11]

 

  1. Peserta Didik Sebagai Subjek Belajar

Peserta didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar. Didalam proses belajar-mengajar, peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita dan memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Jadi dalam proses belajar mengajar yang perlu diperhatikan pertama kali adalah peserta didik, bagaimana keadaan dan kemampuannya, baru setelah itu menentukan komponen-komponen yang lain. Apa bahan yang diperlukan, bagaimana cara yang tepat untuk bertindak, alat dan fasilitas apa yang cocok dan mendukung, semua itu harus disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik peserta didik. Itulah sebabnya peserta didik merupakan subjek belajar.

  1. Karakteristik Peserta Didik

Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-cintanya. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristik peserta didik yaitu:

  • Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau Prerequisite skills, seperti misalnya kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor dan lainnya.
  • Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial (socioculture)
  • Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain.

Pengetahuan mengenai karakteristik peserta didik ini memiliki arti yang cukup penting dalam interaksi belajar mengajar. Terutama bagi guru, informasi mengenai karakteristik peserta didik senantiasa akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih baik, yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi setiap peserta didik.

Adapun Karakteristik Peserta Didik yang mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik antara lain:

  1. Kondisi fisik
  2. Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan
  3. Gaya belajar
  4. Usia
  5. Tingkat kematangan
  6. Ruang lingkup minat dan bakat
  7. Lingkungan sosial ekonomi dan budaya
  8. Faktor emosional
  9. Faktor komunikasi
  10. Intelegensia
  11. Keselaran dan attitude
  12. Prestasi belajar
  13. Motivasi dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://stiebanten.blogspot.com/2011/06/subjek-pendidikan-islam.html.

http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/2011/11/makalah-subjek-pendidikan-tafsir-qs-ar.html

Bakri masykuri,(2011),wajah baru pendidikan dari otoritermenuju humanis, nirmana media:Jakarta

Bakri maskuri,2011,formulasi dan implementasikebijakan pendidikan islam,visipress:surabaya

http://novriyaldi11.blogspot.com/2008/08/subjek-pendidikan.html

http://aufamaudy0408.blogspot.com/2011/12/hakikat-peserta-didik-dalam-pendidikan.html

http://lembayungsurga.wordpress.com/2012/11/11/peserta-didik-sebagai-subjek-pendidikan/

 

 

[1]http://stiebanten.blogspot.com/2011/06/subjek-pendidikan-islam.html.

[2]http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/2011/11/makalah-subjek-pendidikan-tafsir-qs-ar.html

[3]Bakri masykuri,(2011),wajah baru pendidikan dari otoritermenuju humanis, nirmana media:Jakarta hal:11

[4]Bakri maskuri,2011,formulasi dan implementasikebijakan pendidikan islam,visipress:surabaya hal.61

[5]Ibid. 65

[6]Ibid. 62

[7]http://novriyaldi11.blogspot.com/2008/08/subjek-pendidikan.html

 

[8]http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com/2011/11/makalah-subjek-pendidikan-tafsir-qs-ar.html

[9]http://aufamaudy0408.blogspot.com/2011/12/hakikat-peserta-didik-dalam-pendidikan.html

[10]http://lembayungsurga.wordpress.com/2012/11/11/peserta-didik-sebagai-subjek-pendidikan/

 

[11]http://aufamaudy0408.blogspot.com/2011/12/hakikat-peserta-didik-dalam-pendidikan.html

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: