jump to navigation

KRITIK PAULO FREIRE TERHADAP PENDIDIKAN “GAYA BANK”DI DALAM PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS November 14, 2016

Posted by ppraudlatulmubtadiin in ARTIKEL.
trackback

 

Image result for Paulo FreirePengertian Kaum Penindas dan Kaum Tertindas Perspektif Paulo Freire

Masalah sentral bagi manusia adalah humanisasi. Humanisasi merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan, karena sejarah menunjukkan bahwa humanisasi dan dehumanisasi merupakan alternatif yang real. Akan tetapi, hanya humanisasi saja yang patut dipertahankan karena humanisasi merupakan suatu istilah penting yang dapat memanusiakan manusia, dan yang merupakan fitrah manusia. Dalam kehidupan kaum tertindas, fitrah tersebut senantiasa diingkari. Bahkan sebaliknya, fitrah tersebut tidak diakui dan disangkal lalu diputarbalikkan melalui ketidakadilan, eksploitasi, pemerasan, penindasan dan kekejaman dari kaum penindasan. freire menggambarkan penindasan sebagai kondisi dimana A secara objektif  mengeksploitasi B atau merintangi usaha untuk menegaskan diri sebagai orang yang bertanggung jawab. [1]

Sesungguhnya, dehumanisasi bukan hanya identik dengan kaum tertindas tetapi juga dilengkapi oleh kaum penindas. Maka, dehumanisasi ini disebut dengan sebuah penyimpangan fitrah untuk menjadi manusia sejati yang dapat menyelesaikan tanggung jawabnya. Adapun hasil dari suatu tatanan ketidakadilan yang berasal dari penyimpangan fitrah akan menimbulkan kekejaman pada kaum penindas, yang akan melahirkan dehumanisasi terhadap kaum tertindas.

Kaum penindas yang menindas, memeras, dan memperkosa melalui kekuasaannya tidak dapat menemukan kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas maupun diri mereka sendiri agar bisa terbebas dari statusnya sebagai penindas. Inilah bukti bahwa dehumanisasi juga ditandai oleh kaum penindas, bukan hanya dari kaum tertindas. Berbagai usaha “memperkuat” kekuasaan kaum penindas dengan alasan untuk lebih menghormati kelemahaan kaum tertindas hampir selamanya mewujudkan diri dalam bentuk kemurahan hati palsu. Suatu tatanan sosial merupakan alasan yang harus ada dalam “kemurahan hati” ialah mengekalkan ketidakadilan. Padahal, kemurahan hati semacam itu bukan pembebasan bagi manusia, karena disitu kaum tertindas hanya mampu mengalungkan tangan laksana pengemis. Pembebasan yang sejati terjadi kalau tangan-tangan yang terangkat mengemis itu diubah menjadi kegiatan-kegiatan manusiawi yang mampu mengubah dunia. Bagi Freire, penderitaan kaum tertindas terjadi akibat struktur yang tidak adil.[2]

Jadi, kaum tertindaslah yang harus memahami keharusan pembebasan dan sadar bahwa hanya dengan cara mereka yang dapat membawa manusia pada pembebasan yang seutuhnya. Usaha pembebasan oleh kaum tertindas tidak tanpa bahaya, karena persepsi mereka terbatas pada dua gambaran peran saja, yaitu menindas atau tertindas. Oleh karena itu, dalam tahap ini kaum tertindas tidak melihat adanya kemungkinan munculnya manusia baru selain dari kaum penindas dan tertindas. Agar kesadaran akan manusia baru itu dapat muncul diperlukan pemahaman mengenai relasi antara penindas dan yang tertindas. Sebagai jalan keluar, freire menawarkan suatu sistem pendidikan alternatif yang menurutnya relevan bagi kaum tertindas. Maka, dibutuhkan yang namanya pendidikan kaum tertindas agar mereka mengerti dengan situasi mereka sendiri.

Pendidikan kaum tertindas harus diciptakan dalam rangka memulihkan kembali kesadaran kemanusiaanya yang telah dirampas yang biasa disebut dengan dehumanisasi. Pendidikan kaum tertindas harus merupakan perjuangan melawan penindasan. Dalam situasi dimana manusia dan dunia berada dalam interaksi. Oleh karena itu, dalam perjuangan ini diperlukan praksis yang merupakan sebuahh proses interaksi antara refleksi dan aksi. Salah satu faktor penting dalam gerakan pembebasan tersebut adalah perkembangan kesadaran.

 

  1. Konsep Pendidikan “Gaya Bank”

Dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan (guru) kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa (murud). Menganggap bodoh secara mutlak kepada orang lain adalah sebuah ciri dari ideologi penindasan yang berarti mengingkari pendidikan dan pengetahuan sebagai proses pencarian.[3]

Guru menampilkan diri didepan murid-muridnya sebagai orang yang berada  pada pihak yang berlawanan maksudnya antar orang yang orang yang berpengetahuan , dengan menganggap mereka mutlak bodoh, maka mereka mengukuhkan keberadaan mereka sendiri. Para murid yang bagaikan budak terasing menurut dialektika Hegel , menerima kebodohan mereka sebagai pengesahan  keberadaan sang guru, tetapi tidak seperti budak, mereka tidak menyadari bahwa mereka mendidik gurunya. Hal ini merupakan suatu keajaiban dibalik ketertindasannya yang seharusnya mereka sadari.

Suatu analisis cermat mengenai pendidikan gaya bank ialah hubungan antara guru dan murid dimana melibatkan seorang subyek yang bercerita (guru) dan obyek-obyek yang patuh mendengarkan (murid-murid). Ciri-ciri yang sangat menonjol dari pendidikan gaya bank adalah guru yang menjadi pembicara (bercerita/ ceramah). Biasanya guru membicarakan realitas seolah-olah sesuatu tidak bergerak, statis, terpisah satu sama lain, dan mengarahkan murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan tanpa member kesempatan untuk bertanya, menjawab, apalagi berpendapat. Lebih buruk lagi, murid-murid diubahnya menjadi bejana-bejana dan wadah-wadah kosong untuk diisi oleh guru. Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung, dimana para murid adalah celengan dan guru adalah penabungnya.[4] Dalam proses belajar mengajar, guru tidak memberikan pengertian pada peserta didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan untuk disimpan dan akan dikeluarkan bila diperlukan. Disini murid menjadi obyek, bukan subyek. Yang terjadi bukanlah proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan yang harus diterima lalu dihafal dan diulangi dengan patuh oleh para murid. Guru tidak akan menyarankan kepada peserta didik agar mereka melihat realitas secara kritis. Ternyata, tidak kita sadari bahwa penindasan itu terjadi secara luas dan mendalam. Bahkan dalam hal belajar membaca dan menulis dalam pendidikan, penindasan itu terjadi. Peserta didik ditekankan untuk memiliki dan membawa peralatan yang sedemikin rupa dan mengerjakan apa yang diinginkan oleh mereka yang berkuasa, seperti halnya seorang budak yang diperalat untuk memenuhi segala keinginannya. Proses Belajar Mengajar seperti ini telah menghalangi manusia untuk menjadi manusia. Yang tersirat dalam realitas seperti itu bukan hanya hubungan mengajar, tetapi juga pemaksaan dunia mereka yang berkuasa terhadap mereka yang tidak berkuasa.

Contoh aplikasi pada pendidikan gaya bank  ini ialah guru bercerita dengan memperhatikan kemerduan kata-kata, bukan kekuatan mengubahnya. “Delapa kali dua sama dengan enam belas, ibu kota Indonesia adalah Jakarta”. Murid-murid mencatat, menghafal dan mengulangi ungkapan-ungkapan tersebut tanpa menyadari makna sesungguhnya dari “delapan kali dua”, atau tanpa menyadari makna sesungguhnya dari kata “ibu kota” dalam ungkapan “Ibukota Indonesia adalah Jakarta”, yakni apa arti Jakarta bagi Indonesia, dan apa arti Indonesia bagi Jakarta.

Inilah konsep pendidikan gaya bank dimana ruang gerak yang disediakan bagi kegiatan para murid hanya terbatas pada menerima, mencatat, dan menyimpan. Pendidikan bergaya bank ini tidak menyadari bahwa tidak ada ketentraman sejak dalam peranannya yang berlebihan itu. Karena orang (murid) dibuatnya tidak dapat berpendapat dan melaksanakan tanggung jawabnya yang telah dieksploitasi oleh kaum penindas. Konsep gaya bank ini telah mengarahkan peserta didik untuk senantiasa takut dan menjauhi komunikasi.

Ada 10 ciri-ciri dan kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam pendidikan gaya bank yang terdapat dalam pendidikan gaya bank, yang sangat mencerminkan suatu keadaan masyarakat tertindas secara keseluruhan[5] :

  1. Guru mengajar, murid mengajar
  2. Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa
  3. Guru berfikir, mirid difikirkan
  4. Guru bercerita, murid patuh mendengarkan
  5. Guru menentukan peraturan, murid diatur
  6. Guru memilih dan melaksanakan pilihannya, murid menyetujui
  7. Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya
  8. Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa dimintai pendapatnya) menyesuikan diri dan pelajaran itu
  9. Guru mencampuradukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya yang dia lakukan untuk yang menghalangi kebebasan murid
  10. Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek

Dari ciri dan kebiasaan diatas, kita ketahui guru merupakan key person dalam kelas. Guru yang memiliki otoritas dalam kegiatan belajar  maupun diluar kegiatan belajar murid. Pengaruh guru terhadap muridnya sangat besar, faktor-faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati misalnya, memegang peran penting bagi interaksi sosial muridnya. [6]

Di Indonesia, pemerintah RI telah mengupayakan untuk menerapkan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) di dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) disekolah-sekolah dimana cara belajar mengajarnya mengoptimalkan keaktifan siswa,[7] tetapi hanya terbatas metodenya saja. Sementara materinya tidak karena sesungguhnya pendidikan yang demokratis ialah pendidikan dari murid, oleh murid, dan untuk murid, dalam artian murid juga membahas materi yang berasal dari suatu permasalahn yang dialami murid-murid, sehingga dari PBM murid bisa mengambil suatu jalan keluar untuk menghadapi permasalahnnya, sedangkan mayoritas materi yang dibahas sekedar mengambil rumusan dari buku paket tanpa ada hubungan dengan yang dialami murid dalam kesehariannya. Disitu dapat kita ketahui bahwa relasi guru dan murid adalah murid sebagai orang yang belum tahu dan harus diberitahu dan guru yang bertugas memberitahu. Apalagi dalam pelaksanaan pendidikan agama dalam gereja, lebih mendapat tekanan yang dominan karena menggunakan pendekatan “indoktrinasi”.

 

  1. Cara Mengatasi Kontradiksi antara kaum penindas dan Kaum Tertindas Dalam Proses Belajar Mengajar

Raison d’ etre adalah pendidikan yang membebaskan. Sebaliknya, yang terletak pada usaha ke arah rekonsiliasi. Pendidikan ini harus dimulai dengan pemecahan masalah kontradiksi antara guru dan murid. Dengan menunjukkan kutub-kutub dalam kontradiksi tersebut, sehingga kedua-duanya secara bersamaan adalah guru dan murid.[8]

Sesungguhnya kewajiban kaum penindas adalah mengubah kesadaran kaum tertindas, bukan malah menciptakan situasi yang menindas mereka. Padahal, pada hakikatnya kaum tertindas akan lebih mudahnya diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan situasi itu, maka akan lebih mudahlah mereka dapat dikuasai. Untuk mencapai tujuan, kaum penindas menggunakan konsep pendidikan gaya bank dengan bekerja sama dengan aparat-aparat masyarakat paternalistik, dimana kaum tertindas memperoleh sebutan yang diperhalus sebagai “kaum penerima santunan”.[9] Maka mereka diberlakukan sebagai orang yang berkelainan, sebagai orang-orang pinggiran yang menyimpang dari kelaziman tata masyarakat yang “sopan, rapi, dan adil”. Kaum tertindas dianggap sebagai penyakit ditengah masyarakat sehat, yang karena itu harus mengubah orang-orang  yang bodoh ini agar sesuai dengan pola-pola yang mereka inginkan dengan cara mengubah mentalitas mereka. Orang-orang pinggiran itu perlu diintegrasikan atau digabungkan kedalam masyarakat sehat yang telah meninggalkan mereka.

Mereka yang menggunakan pendekatan gaya bank ini, tidak menyadari bahwa mereka sedang bekerja untuk tujuan dehumanisasi, tidak memahami bahwa pengetahuan yang mereka tanamkan itu berisi kontradiksi dengan realitas. Tetapi, cepat atau lambat kontradiksi tersebut pada akhirnya akan mengarahkan murid-murid yang semula pasif untuk berbalik menentang perjinakan atas mereka dan berusaha menjinakkan realitas. Mereka akan memahami lewat hubungan mereka dengan realitas, bahwa realitas itu adalah proses yang mengalami perubahan secara terus-menerus sehingga Cepat atau lambat mereka akan menyadari kontradiksi yang dipertahankan melalui pendidikan gaya bank untuk mereka, dan kemudian melibatkan diri kedalam perjuangan bagi pembebasan diri mereka bahkan untuk kaum penindas.

Konsep pendidikan gaya bank tidak memungkinkan adanya hubungan saling menghargai, dan memang harus demikian. Untuk mencari jalan keluar dari kontradiksi guru dan murid, mengubah guru yang berstatus penabung, pemberi resep, penjinak, agar menjadi murid diantara murid-murid, akan berarti merongrong kekuasaan kaum penindas dan melayani usaha pembebasan.

Pembebasan adalah sebuah praksis yaitu tindakan dan refleksi manusia atas dunia untuk merubahnya dan sebagai dasariah bahwa manusia korban penindasan harus berjuang bagi pembebasan dirinya.[10] Mereka yang sunggguh-sungguh menginginkan dan mengabdi pada gerakan pembebasan tidak dapat menerima baik konsep mekanis tentang kesadaran sebagi sebuah bejana kosong yang akan diisi, maupaun pengekanagan terhadap metode gaya bank dengan mengatasnamakan pembebasan.

Bagi yang benar-benar mengabdi harus menolak konsep pendidikan gaya bank secara menyeluruh, menggantikannya dengan sebuah konsep tentang manusia sebagai makhluk yang sadar, dengan kesadaran yang diarahakan kepada dunia, berpotensi, dan bertanggung jawab. Sehingga Freire menyarankan sebuah Pendidikan “hadap masalah” (problem posing) yang menjawab hakikat kesadaran.[11] Pendidikan yang membebaskan ini merupakan sebuah situasi belajar dimana obyek yang dapat kita pahami, menghubungkan pada prilaku pemahaman. Guru disuatu sisi dan murid disisi lain. Oleh karena itu, dikatakan penting pendidikan hadap masalah ini disebabkan pertama kali menuntut adanya pemecahan masalah kontradiksi antara guru (kaum penindas) dan murid (kaum tertindas). Dalam mengatasi kontradiksi guru dan murid (perbedaan guru sebagai sumber segala pengetahuan dan murid menjadi orang-orang yang tidak tahu apa-apa) ialah murid tidak dilihat dan ditempatkan sebagai obyek yang harus diajar dan menerima. Demikian juga sebaliknya, guru tidak berfungsi sebagi pengajar. Guru dan murid sama-sama belajar dari masalah yang dihadapi dan bersama-sama menjadi subyek dalam pemecahan masalah.

 

  1. Humanisasi Pendidikan Bagi Kaum Tertindas

            Terkadang manusia menganggap pendidikan hanyalah sebuah bisnis yang menarik dan tidak berorientasi pada tujuan pendidikan. sesungguhnya dengan memperlakukan peserta didik secara humanistik akan membantunya dalam menjadi aktor utama dalam proses pendidikan. Terkait dengan suatu proses pendidikan, maka teori kepemimpinan humanistik menghendaki seorang guru sebagai kreator dan arsitek tunggal dimedan kerjanya dengan memberikan suasana bebas bagi peserta didik. Bagi Freire, pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang dapat menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Prinsip pedagogis yang mendasari Freire adalah bahwa manusia memiliki potensi untuk berkreasi dan terbebas dari istilah pembebasan.[12]

Pendidikan kontekstual atau “hadap masalah” merupakan sebuah teori dan model pendidikan yang mengupayakan peserta didik untuk menjadi subyek. Disini guru tidak lagi menjadi orang yang mengajar apalagi bercerita, tetapi orang yang mengajar dirinya melalui dialog dengan para murid, yang pada gilirannya disamping belajar juga mengajar. Guru bertindak dan berfungsi sebagai koordinator yang memperlancar kecakapan dialogis, sementara itu murid ialah partisipan aktif dalam dialog tersebut dan materinya menyangkut permasalahn sosial dalam konteks sehari-hari murid, bukan mengambil dari buku paket.

Peran seorang pendidik hadap masalah adalah menciptakan, bersama dengan murid dalam satu suasana dimana pengetahuan dalam tahap mantra diganti dengan pengetahuan sejati pada tahap ilmu.[13] Murid bukan lagi seorang pendengar yang patuh, tapi menjadi rekan yang kritis melalui dialog dengan guru. Guru menyajikan pelajaran kepada murid sebagai bahan pemikiran mereka. Peserta didik harus dipandang sebagi manusia yang memiliki tanggung jawab. Istilah penyelesaian kontradiksi guru-murid berubah menjadi “gurunya murid dan muridnya guru”.

Namun perlu digarisbawahi, bahwa kebebasan itu masih berada dalam kerangka pencapaian tujuan pendidikan. Seorang tokoh pendidikan nasional kita, Ki Hajar Dewantoro mengatakan bahwa tugas seorang pemimpin (guru) adalah: 1. Ing ngarso sung tulada (dari depan memberi teladan), 2. Ing madya karsa (ditengah memberi semangat), 3. Tut wuri handayani (dari belakang memberi pengaruh).[14]

Metode demokrasi sebagaimana dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional, seperti metode amongnya KI Hajar Dewantoro, dan metode-metodenya KH. Ahmad Dahlan dan Muhammad Syafi’I sangat disetujui oleh Darmaningtyas.[15] Karena menurutnya, yang membutuhkan pembebasan pikiran bukan hanya keluarga miskin di pedesaan, tetapi juga anak-anak keluarga menengah atas yang berada di sekolah-sekolah. Dengan memperlakukan peserta didik secara humanistik, tindakan-tindakan dan fenomena-fenomena lainnya tidak akan terjadi, setidaknya akan teredukasi. Jadi, untuk metode humanistik, perlu diterapkan seorang pendidik agar bisa menyesuaikan antara makna dan tujuan pendidikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Freire, Paulo (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Edisi Revisi. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.

Wahono, francis (2001). Kapitalisme Pendidikan Antara Kompetisi dan Keadilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Hamalik, Oemar (2009). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset.

Tafsir, Ahmad (2008). Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

http://putradelta.blogspot.com/ (diakses tanggal 20 Maret 2012)  

[1]  Pendidikan Kaum Tertindas, http:/Putradelta. Blogspot.com/  (diakses tanggal 20 Maret 2012).

 

[2]  Pendidikan Kaum Tertindas, http:/Putradelta. Blogspot.com/  (diakses tanggal 20 Maret 2012).

[3]  Paolo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, cetakan VI (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008) Halaman 53.

[4]  Ibid, Halaman 52.

 

[5]  Ibid, Halaman 54.

[6]  Oemar Hamalik,   Psikologi Belajar Mengajar, cetakan VI (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), Halaman 27.

[7]  Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Cetakan X (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) Halaman 145.

[8]  Paolo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, cetakan VI (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008) Halaman  53.

[9]  Ibid, Halaman 55.

[10]  Ibid, Halaman 73.

[11]  Ibid, Halaman 63.

[12]  Pendidikan Yang Memanusiakan Manusia, http:/Putradelta. Blogspot.com/  (diakses tanggal 20 Maret 2012).

[13]  Paolo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, cetakan VI (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2008) Halaman  64.

 

[14]  Pendidikan Yang Memanusiakan Manusia, http:/Putradelta. Blogspot.com/  (diakses tanggal 20 Maret 2012).

[15]  Francis Wahono, kapitalisme Pendidikan Antara Kompetisi dan Keadilan, Cetakan II (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001)  Halaman 113.

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: