jump to navigation

Profil & Sejarah

PROFIL PONDOK PESANTREN

“RAUDLATUL MUBTADI’IN”

A. LATAR BELAKANG PESANTREN

Pesantren Raudlatul Mubtadi’in merupakan cabang ke 6 dari pesantren Raudlatul Ulum, didirikan pada tahun 1971 oleh K.H. Ali Ridla, seorang tokoh muda yang telah banyak pengetahuan agama dan pengalamannya, karena telah dapat menyelesaikan pelajaran dibeberapa pesantren.

Sebelum pesantren tersebut didirikan, telah ada beberapa orang santri dari daerah pegunungan kecamatan Dampit kabupaten Malang yang besar kemauannya untuk mengabdi dan memperoleh pengetahuan agama Islam dari K.H Ali Ridla. Pada waktu itu latar belakang kehidupan santri belum tampak jelas, karena masih berkumpul satu rumah bersama keluarga Kiyai. Oleh sebab itu kegiatan sehari-harinya, seperti mengaji, makan, tidur, mencuci pakaian dan lain-lain, selalu di warnai oleh corak keakraban dan kekeluargaan, sehingga sulit dibedakan antara keluarga Kiyai dan santri.

Pada suatu saat, tepatnya pada hari Rabu tanggal 5 April 1971 seorang Ulama’ terkemuka dan kakek istri K.H Ali Ridla, yaitu Almarhum K.H Bukhari  Isma’il, berkenan hadir mengunjungi keluarga K.H Ali Ridla. Kebetulan pada waktu itu beliau menyaksikan beberapa orang santri sedang mengikuti pengajian Al-Qur’an yang diajarkan langsung oleh K.H Ali Ridla. Hadlratus Syaikh Al Arif Billah Al marhum K.H Bukhari Isma’il rupanya kurang berkenan di hatinya setelah mengetahui keadaan santri yang sehari-harinya selalu tinggal satu rumah bersama Kiyainya. Oleh karena itu selanjutnya beliau memberi nasehat dan menganjurkan agar santri-santri tersebut segera dipisahkan dari keluarga seorang Kiyai dengan jalan membuatkan tempat tersendiri. Nasehat dan anjuran beliau tersebut kemudian dilaksanakan oleh K.H Ali Ridla, sekalipun mula-mula di rasa sangat berat sekali, namun sekarang telah terwujud suatu lembaga pendidikan islam, yakni pesantren. Hal ini tidak lain karena taufiq, hidayah dan inayah Allah semata, berkat dorongan dan do’a para Kiyai sesepuh serta bantuan masyarakat.

B. BIOGRAFI PENDIRI PESANTREN

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian yang lalu, bahwa Pesantren Raudlatul Mubtadi’in didirikan pada tahun 1971 oleh K.H Ali Ridla atas nasehat dan anjuran kakek mertuanya yaitu Al Marhum K.H Bukhari Isma’il.

K.H Ali Ridla di lahirkan pada tanggal 27 Juli 1935  dari lingkungan keluarga seorang petani di desa Panggungrejo Kecamatan Gondanglegi kabupaten Malang. Ayahnya bernama H. Hadrlawi, seorang yang mempunyai cita-cita tinggi untuk menjadikan putranya sebagai seorang yang mampu dan menguasai ilmu pengetahuan agama. Ibunya bernama Hj. Siti Maryam, seorang perempuan yang berwatak keibuan sepanjang hidupnya dan penuh kesabaran serta kebijaksanaan  dalam mengasuh dan mendidik putra-putrinya.

K.H Ali Ridla yang pada waktu kecilnya diberi nama Shanhaji oleh orang tuanya, mempunyai satu saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan dan beliau termasuk putra yang kedua dari lima orang bersaudara.

kai

Alm.KH.Shonhaji Hadrowi

Berhubung latar belakang kehidupan orang tuanya diwarnai oleh corak kehidupan seorang petani yang selalu sibuk mengurusi pertaniannya, maka untuk memperoleh ilmu pengetahuan agama, beliau diserahkan kepada seorang Ulama’ yaitu K.H Yahya Syabrawi, pendiri dan pengasuh pesantren Raudlatul Ulum. Beliau sangat rajin mengikuti pengajian dengan berbagai macam kitab dan selalu taat kepada gurunya, sehingga setelah beliau menamatkan pelajarannya di Madrasah Tsanawiyah Raudlatul Ulum tahun 1953 (pada waktu bernama Madrasah Tsanwiyah Miftahus Shibyan), gurunya mengerti, bahwa beliau mempunyai bakat dan kemampuan yang cukup menonjol. Oleh sebab itu beliau dianjurkan untuk melanjutkan pelajarannya ke pesantren Jampes Kediri Jawa Timur tahun 1955 yang pada waktu itu Pesantren tersebut di asuh oleh Al Allamah Al Marhum K.H Ihsan; seorang Ulama’  besar yang telah banyak menulis berbagai macam kitab pengetahuan agama dalam bahasa arab dan diantara buah penanya yang terkenal ialah kitab Sirajuth Thalibin.

Setelah menamatkan pelajarannya di pesantren Jampes pada tingkat Madrasah Aliyah tahun 1957, beliau melanjutkan pelajarannya ke pesantren Raudlatut Thalibin Jawa Tengah yang pada waktu itu oleh Al Allamah K.H Mushlih, seorang Ulama’ besar yang terkenal dengan sebutan ahli tashawwuf dan wara’nya.

Kemudian setelah cukup mendalami berbagai ilmu pengetahuan agama islam yang diperoleh dari beberapa Ulama’ besar, dan terakhir telah menamatkan pelajarannya di Pesantren Tanggir pada tahun 1960, beliau dipanggil pulang oleh orang tuanya untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Setelah berselang beberapa bulan, beliau dikawinkan dengan seorang wanita salah satu diantara putri K.H Yahya Syabrawi yang bernama Hj, Asiyah tahun 1960. perkawinan dua tokoh ini sebenarnya sudah direncanakan jauh sebelumnya melalui pesanan khusus dari K.H Yahya kepada orang tua beliau sewaktu beliau menuntut ilmu di pesantren Raudlatul Ulum. Melalui perkawinan ini beliau dikaruniai 3 orang anak putra dan 2 orang anak putri.

Selama beberapa tahun beliau hidup dalam lingkungan keluarga beserta mertuanya dan turut membina pesantren. Kemudian setelah merasa mampu untuk berdiri sendiri, yaitu tahun 1964 beliau membangun rumah yang tidak jauh dari kediaman mertuanya.

Berkat pendidikan dan pengajaran yang diperoleh dari para ulama’ besar, tertanamlah dalam hati sanubari beliau suatu aqidah yang kuat, akhlaqul karimah dan cita cita tinggi. Hal ini tampak jelas setelah beliau diberi tugas untuk mengajar di madrasah sebagai langkah terjun karena perjuangan dalam mengembangkan serta mempertahankan ajaran agama islam. Melalui tahapan inilah beliau makin hari makin disegani dan di hargai oleh murid-murid Madrasah dan akhirnya nama beliau semakin harum dalam mendapatkan kepercayaan mengajarkan agama islam. Dari pada itu beliau selalu mawas diri dan penuh konsekwensi untuk mempertahankan reputasi dan karirnya, sehingga akhirnya beliau mampu mendirikan pesantren di tengah-tengah lembaga pendidikan yang ada jauh sebelumnya. Pesantren tersebut dalam periode perkembangannya diberi nama Raudlatul Mubtadi’in.

C. TUJUAN PENDIRIAN PESANTREN

Tujuan di dirikan pesantren Raudlatul Mubtadi’in, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tujuan didirikan pesantren-pesantren lain. Hanya saja bagaimanapun corak dan bentuk suatu pesantren yang didirikan akan mempunyai ciri – ciri tertentu yang membedakan antara pesantren yang satu dengan yang lain, sekalipun didalamnya sama terdapat pengajaran pokok-pokok agama islam dan ilmu cabang islam yang lain.

Pesantren Raudlatul Mubtadi’in atas kemauan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota masyarakat, dengan kata lain untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, maka pesantren ini berusaha semaksimal mungkin untuk mencetak insan yang kamil yang tafaqquh fiddin yang sanggup menjadi pendukung ajaran agama islam secara utuh ( khaffah ).

Tiga Kamar Yang Dibangun Pertama Oleh KH. Ali Ridha

 

 

 

 

 

 

 

 

Di dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran pesantren Raudlatul Mubtadi’in selalu menitik beratkan pada kaderenisasi ahli agama dan ulama’ yang :

  1. Menguasai ilmu agama dan mampu mengamalkan serta mengembangkan dengan tekun dan ikhlas karena Allah SWT semata.
  2. Berakhlaqul karimah, berfikir kritis, berjiwa dinamis dan istiqomah.
  3. Memiliki sifat muru’ah, kuat mental dan fisik, kasih sayang sesama, tawadhu’ dan tawakkal kepada Allah SWT.

Dengan tegas pesantren Raudlatul Mubtadi’in mempunyai institusional, baik yang bersifat umum maupun khusus, yaitu :

  1. Tujuan Umum.

Membina warga Negara agar berkepribadian muslim yang bertaqwa kepada Allah, sesuai dengan ajaran islam dan menanamkan rasa keagamaan pada semua aspek kehidupannya serta menjadikan sebagai orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

  1. Tujuan Khusus.
    1. Mendidik santri untuk menjadi orang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berakhlaqul karimah, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin.
    2. Mendidik santri untuk menjadi seorang muslim selaku kader-kader ulama’ dan muballigh yang berjiwa ikhlas, tabah dan teguh mengamalkan syari’ah islam secara utuh dengan berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
    3. Mendidik santri untuk memperoleh kepribadian muslim yang di ridloi oleh Allah SWT.
    4. Mendidik santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial dalam rangka usaha pembangunan masyarakat, khususnya pembangunan di bidang mental spiritual.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut telah dilaksanakan berbagai macam usaha, yaitu antara lain sebagai berikut :

  1. Mengerahkan dan menggairahkan masyarakat terhadap pendidikan islam.
  2. Mengadakan hubungan timbal balik yang dinamis dan kerja sama yang produktif antara pesantren, para ulama’ dan masyarakat.
  3. Membina dan mempererat ukhuwah islamiayah.
  4. Berpartisipasi dalam mencerdaskan bangsa.

Komentar»

1. mustain billah kkr - Februari 10, 2014

Assalamu’alaikum, wr.wb….
salam sejahterah buat kita semua…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: